Jakarta, GPriority.co.id – Sidang terbuka pengukuhan profesor riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan 5 profesor riset (peneliti ahli utama) yang memaparkan gagasan strategis untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, pada Selasa (31/3) ini menyoroti isu kebijakan sosial, ekonomi sirkuler, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), hingga tata kelola pesisir berbasis sains dan teknologi.

Terpantau GPriority di tempat, orasi ilmiah pertama disampaikan oleh Mu’man Nuryana dari bidang Perencanaan dan Kebijakan Sosial. Ia menekankan pentingnya transformasi sistem kesejahteraan sosial melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai aktor. Mu’man memperkenalkan Model Orkestrasi Ekosistem sebagai kerangka inovatif untuk menyatukan peran komunitas, negara, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Dengan menempatkan komunitas sebagai produsen kesejahteraan dan negara sebagai pemungkin, model ini menawarkan arah transformasi kebijakan sosial berbasis kolaborasi, nilai lokal, dan keadilan sosial di Indonesia,” terang Mu’man.
Pendekatan ini dinilai mampu mengatasi fragmentasi kebijakan sosial sekaligus mendorong sistem yang lebih inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Model tersebut juga memperkuat peran komunitas sebagai aktor utama dalam menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Selanjutnya, Robet Asnawi membahas inovasi di sektor pertanian melalui penerapan ekonomi sirkuler pada komoditas ubi kayu. Ia mengembangkan sistem tanam double row yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas lebih dari 100 persen. Selain itu, pemanfaatan biomassa turut meningkatkan hasil produksi hingga 17,26 persen serta pendapatan petani sebesar 48,43 persen.
Robet juga menyoroti pentingnya keadilan dalam rantai pasok, khususnya dalam penentuan harga ubi kayu di tingkat petani.
“Transformasi agribisnis ubi kayu perlu dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir. Di sisi hilir, persoalan utama adalah penentuan harga yang sering tidak adil antara petani dan pabrik tapioka. Karena itu diperlukan harga dasar yang transparan dengan mempertimbangkan biaya produksi, kadar pati, dan harga tapioka. Kemitraan inklusif petani dan industri penting untuk memperkuat rantai pasok dan menjaga keberlanjutan usaha,” ungkap Robet.
Di sektor pesisir, Taslim Arifin menekankan pentingnya menjaga daya dukung ekologi melalui pengembangan Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE). Instrumen ini digunakan untuk mengukur kemampuan ekosistem dalam menopang aktivitas manusia tanpa merusak fungsi alaminya. Ia juga mengungkapkan besarnya nilai ekonomi terumbu karang yang berkontribusi signifikan terhadap sektor pariwisata, perikanan, dan perlindungan pantai.
“Terumbu karang menyumbang sekitar US$3,1 miliar/tahun dari sektor pariwisata, US$2,9 miliar/tahun dari perikanan dan US$639 juta/tahun untuk perlindungan pantai. IDDE berperan penting dalam menekan laju degradasi dan meningkatkan nilai ekologis terumbu karang sehingga memperkuat basis ilmiah untuk tata kelola ruang laut mendukung ekonomi biru,” ucapnya.
Sementara itu, Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho memaparkan inovasi dalam pengelolaan DAS berbasis sistem sosio-teknis. Ia mengembangkan model pengelolaan DAS mikro partisipatif serta teknologi konservasi tanah dan air berbasis kearifan lokal. Selain itu, berbagai instrumen monitoring seperti ATHUS, ModATHUS, WaterQ, dan SI PUBER turut mendukung sistem perencanaan berbasis data dan mitigasi bencana.
Di sisi lain, Aprijanto menyoroti tantangan kawasan pesisir dan pelabuhan akibat perubahan iklim, seperti kenaikan muka air laut dan penurunan tanah. Ia mengembangkan teknologi adaptif berbasis hidrodinamika yang mencakup pemodelan arus, gelombang, banjir rob, serta sedimentasi. Pendekatan ini diperkuat dengan integrasi kecerdasan buatan dan data spasial untuk mendukung sistem peringatan dini.
Aprijanto menambahkan, pendekatan Technology Readiness Level (TRL), Socio Technical System (STS), dan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) menjadi jembatan antara riset dan implementasi kebijakan. Hal ini penting agar inovasi dapat diterapkan secara luas dalam pengelolaan pesisir yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Secara keseluruhan, sidang terbuka ini menunjukkan peran strategis BRIN dalam menghasilkan riset yang tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi konkret bagi tantangan nasional, mulai dari kesejahteraan sosial, ketahanan pangan, hingga pengelolaan sumber daya alam dan pesisir.
