Israel, GPriority.co.id – Israel dan Lebanon resmi menyepakati gencatan senjata sementara selama 10 hari dalam upaya meredakan konflik yang telah menelan ribuan korban dan memicu kekhawatiran global.
Kesepakatan ini diumumkan setelah serangkaian negosiasi intensif yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan melibatkan para pemimpin kedua negara.
Menurut laporan Reuters, gencatan senjata ini mulai berlaku pada 16 April 2026 dan berpotensi diperpanjang jika kedua pihak menyepakati langkah lanjutan menuju perdamaian permanen.
Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan bahwa kesepakatan tercapai setelah melakukan komunikasi intensif dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun. Menurut Trump, proses tersebut merupakan hasil dari percakapan yang sangat baik.
Sementara itu, dilansir dari laporan The Washington Post, selama masa gencatan senjata, kedua pihak sepakat menghentikan operasi militer, termasuk serangan udara dan tembakan lintas perbatasan.
Tujuan utama dari kesepakatan ini adalah menciptakan ruang bagi negosiasi damai yang lebih luas serta mengurangi dampak kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan.
“Kesepakatan ini adalah langkah awal untuk menciptakan ruang dialog yang lebih konstruktif,” ujar seorang pejabat diplomatik.
Pernyataan ini menegaskan bahwa gencatan senjata bukanlah akhir dari konflik, melainkan peluang untuk membuka jalur diplomasi yang lebih serius.
Sementara itu, konflik antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon, terutama Hezbollah, telah meningkat sejak awal Maret 2026. Serangan roket dari Lebanon memicu respons militer besar-besaran dari Israel, termasuk serangan udara dan operasi darat yang menyebabkan kerusakan luas serta korban jiwa yang signifikan. Lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas dan jutaan lainnya mengungsi akibat eskalasi ini.
Meski Hezbollah tidak secara langsung terlibat dalam perundingan, kelompok tersebut menyatakan akan menghormati gencatan senjata jika Israel juga menghentikan serangan militernya.
Namun, situasi tetap dianggap rapuh karena kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing terkait keamanan dan kehadiran militer di wilayah perbatasan.
Komunitas internasional menyambut positif kesepakatan ini. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan dukungannya dan menekankan pentingnya menjaga momentum perdamaian. Ia mengatakan bahwa gencatan senjata ini memberikan “kelegaan” bagi warga sipil yang terdampak konflik.
Sementara itu, para pemimpin dunia mendorong kedua negara untuk memanfaatkan periode 10 hari ini sebagai kesempatan untuk mencapai kesepakatan jangka panjang. Negosiasi lanjutan bahkan direncanakan akan berlangsung di Washington sebagai bagian dari upaya diplomasi yang lebih luas.
