Amerika Serikat, GPriority.co.id – Fenomena menarik muncul dari sebuah survei terbaru di Amerika Serikat. Hampir satu dari lima orang dewasa mengaku merasa dirinya “pada dasarnya memiliki kemampuan paranormal” atau indra keenam, dan bisa meramal masa depan.
Temuan ini memicu perdebatan tentang peran intuisi dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana manusia memahami perasaan “firasat” mereka.
Berdasarkan laporan New York Post, sekitar 19% warga Amerika percaya bahwa mereka “basically psychic”, sementara 71% lainnya mengaku setidaknya kadang mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan.
Survei terhadap 2.000 responden ini juga menemukan bahwa dalam setahun terakhir, rata-rata orang mengalami sekitar 18 momen intuitif, yakni perasaan atau firasat yang kemudian terbukti benar.
Fenomena ini paling sering muncul dalam bentuk “sekadar tahu” tanpa alasan jelas, seperti merasa ada sesuatu yang tidak beres (33%), mendeteksi kebohongan (28%), atau tahu kapan harus meninggalkan suatu situasi (26%).
Menariknya, generasi muda menjadi kelompok yang paling percaya pada kemampuan ini. Gen Z tercatat paling banyak mengaku memiliki kemampuan “psikis” dengan frekuensi pengalaman intuitif mencapai dua kali per bulan, dua kali lebih sering dibanding generasi baby boomer.
Fenomena ini kemudian dijelaskan oleh Adam Dickinson, mantan analis intelijen FBI yang kini fokus pada integrasi logika dan intuisi. Ia menyebut intuisi sebagai bentuk kecerdasan yang berbeda dari logika rasional.
“Intuisi adalah saluran kecerdasan kedua: datang dengan cepat, terasa ringan dan stabil, serta secara halus mengarahkan Anda pada hal yang tepat,” jelasnya.
Menurut Dickinson, intuisi sebenarnya merupakan hasil dari pengalaman dan pola yang telah dipelajari otak selama bertahun-tahun, yang kemudian “diringkas” menjadi sinyal instan.
“Dari sudut pandang mental, intuisi adalah cara tubuh Anda merangkum bertahun-tahun pengalaman dan pengenalan pola menjadi sinyal jelas yang bisa Anda rasakan saat ini,” ungkapnya.
Namun, tidak semua orang yakin dapat membedakan intuisi dengan kecemasan. Sebanyak 35% responden mengaku kesulitan membedakan antara firasat yang benar dan rasa cemas semata.
“Sebaliknya, kecemasan adalah kebisingan mental yang berat dan kacau,” tutur Dickinson.
Ia menambahkan bahwa kecemasan cenderung memicu pikiran berulang dan penuh kekhawatiran, sementara intuisi terasa lebih tenang dan jelas. Dengan kata lain, tidak semua “perasaan kuat” berasal dari intuisi, bisa jadi hanya respons terhadap stres.
Di sisi lain, faktor lingkungan modern juga memengaruhi hubungan manusia dengan intuisi. Sekitar 44% responden merasa terapi dan dukungan kesehatan mental membantu mereka lebih memahami intuisi.
Namun, teknologi seperti media sosial (46%) dan kecerdasan buatan (43%) justru dianggap membuat orang semakin menjauh dari “suara batin” mereka sendiri.
