Trump Luncurkan Project Freedom, Bantu Kapal yang Terjebak di Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump luncurkan project freedom untuk bebaskan kapal yang terjebak di Selat Hormuz/Foto : Dok. AFP Presiden AS Donald Trump luncurkan project freedom untuk bebaskan kapal yang terjebak di Selat Hormuz/Foto : Dok. AFP

Washington, GPriority.co.id – Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan peluncuran operasi baru bernama “Project Freedom” untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz keluar dengan aman.

Langkah ini disebut sebagai upaya kemanusiaan di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Trump mengatakan bahwa banyak negara meminta bantuan AS untuk membebaskan kapal mereka yang tertahan di jalur strategis tersebut.

“Kami akan melakukan upaya terbaik untuk membawa kapal dan awaknya keluar dari selat dengan aman,” ujar Trump dikutip dari The Business Standard.

Ia menambahkan bahwa operasi tersebut akan dimulai segera, dengan tujuan memastikan kapal-kapal dapat kembali beroperasi tanpa hambatan.

“Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami akan memandu kapal-kapal ini agar bisa melanjutkan aktivitas mereka dengan bebas,” kata Trump.

Pemerintah Iran langsung merespons keras rencana tersebut. Mereka memperingatkan bahwa keterlibatan AS di Selat Hormuz dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang rapuh.

Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran menegaskan, “Setiap campur tangan Amerika dalam pengaturan maritim baru di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.”

“Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan dikelola oleh pernyataan delusional Trump,” lanjutnya.

Sebagai kilas balik, ketegangan ini terjadi setelah konflik militer antara AS–Israel dan Iran pada Februari 2026, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur ini sangat penting karena menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Meski kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata pada April, negosiasi masih buntu dan situasi tetap tidak stabil.

AS menyebut operasi ini sebagai langkah kemanusiaan, namun Iran melihatnya sebagai potensi eskalasi militer yang bisa memicu konflik baru.