Jakarta, GPriority.co.id – Dalam beberapa pekan terakhir, unggahan penjualan lapangan padel dengan harga “jual rugi” viral di platform X dan TikTok, memunculkan spekulasi bahwa bisnis olahraga yang sempat booming ini mulai memasuki fase penurunan.
Fenomena ramainya penjualan lapangan padel di media sosial mulai memicu pertanyaan publik: apakah tren olahraga padel di Indonesia mulai kehilangan pamor?
Salah satu unggahan yang ramai diperbincangkan memperlihatkan satu set lapangan padel indoor dijual seharga Rp199 juta lengkap dengan fasilitas bongkar pasang. Harga tersebut dianggap jauh lebih murah dibanding biaya pembangunan lapangan padel yang bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Fenomena ini dinilai tidak lepas dari ledakan tren padel yang terlalu cepat dalam dua tahun terakhir. Banyak investor masuk ke bisnis ini karena melihat tingginya antusiasme masyarakat urban terhadap olahraga yang identik dengan gaya hidup modern dan media sosial.
Namun pengamat menilai sebagian besar bisnis padel di Indonesia tumbuh karena efek fear of missing out (FOMO), bukan karena kebutuhan pasar yang benar-benar kuat.
Dalam laporan Kompas.com, pengamat ekonomi Eddy Soeryanto Soegoto menyebut bisnis padel sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi masyarakat dan daya beli konsumen. Ia mengingatkan bahwa olahraga ini menyasar segmen menengah atas sehingga rentan mengalami penurunan ketika tren mulai bergeser.
“Bisnis ini sangat sensitif terhadap disposable income para konsumen,” ujar Eddy dalam wawancara tersebut.
Selain faktor biaya, oversupply lapangan juga disebut menjadi penyebab utama. Di sejumlah wilayah Jakarta dan Tangerang, lapangan padel tumbuh sangat cepat dalam waktu singkat.
Akibatnya, persaingan semakin ketat sementara jumlah pemain aktif tidak tumbuh secepat pembangunan fasilitasnya. Diskusi komunitas di Reddit bahkan menyebut pasar padel mulai “oversaturated” dan tingkat retensi pemain relatif rendah setelah hype mereda.
Persoalan regulasi juga memperburuk kondisi industri. Pemerintah Provinsi Jakarta sebelumnya mengungkap hampir separuh lapangan padel di ibu kota belum memiliki izin resmi maupun Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Penertiban tersebut membuat sebagian investor mulai berhitung ulang terhadap keberlanjutan bisnis ini.
Meski begitu, sejumlah analis menilai padel belum sepenuhnya mati. Industri ini diperkirakan akan memasuki fase normalisasi, di mana hanya pelaku usaha dengan komunitas kuat dan konsep bisnis matang yang mampu bertahan.
Tren serupa sebelumnya juga terjadi pada bisnis sepeda premium, golf simulator, hingga bowling modern yang sempat viral lalu memasuki pasar lebih stabil.
Di tingkat global, pasar padel sebenarnya masih terus tumbuh dan diproyeksikan bernilai miliaran euro pada 2026. Namun di Indonesia, tantangan terbesar olahraga ini adalah menjaga komunitas pemain tetap aktif setelah euforia media sosial mulai menurun.
