San Diego, Amerika Serikat — Nama Amin Abdullah kini menjadi sorotan global setelah ia gugur sebagai petugas keamanan (satpam) Islamic Center of San Diego dalam insiden penembakan pada Senin (18 Mei 2026). Aksi heroiknya dipuji sebagai tindakan penuh keberanian yang menyelamatkan nyawa banyak jamaah dan anak-anak di kompleks masjid, menjadikannya simbol kepahlawanan dan keteguhan iman di tengah kekerasan bermotif kebencian.
Amin Abdullah, seorang ayah delapan anak, telah bertugas sebagai petugas keamanan di Islamic Center of San Diego selama lebih dari satu dekade, menjadikan ia sosok yang dikenal dan dihormati oleh komunitas Muslim setempat. Ia dikenal sebagai pria yang ramah, penuh dedikasi, dan sangat peduli pada keselamatan orang lain, selalu menjaga ketenangan dan kenyamanan di pusat komunitas tersebut, yang mencakup masjid, pusat pendidikan Al-Rashid untuk anak-anak, dan ruang kegiatan lainnya.
Keluarga dan kerabatnya menggambarkan Amin sebagai pribadi yang rela mengorbankan diri untuk orang lain, dengan motivasi utama untuk melindungi mereka yang tidak bersalah. “Ia ingin melindungi orang-orang yang tidak bersalah, karena itulah ia memutuskan untuk menjadi petugas keamanan,” kata Shaykh Uthman, teman dekat Amin, yang menirukan keinginan almarhum. Usia dan keterbatasan fisik tidak menghalanginya; justru posisinya sebagai tameng di depan pintu menjadi kunci mencegah korban jatuh lebih banyak selama serangan berlangsung.
Tindakan Kepahlawanan dalam Peristiwa Penembakan
Penembakan di Islamic Center of San Diego terjadi sekitar pukul 11.40 waktu setempat, ketika dua remaja bersenjata (17 dan 19 tahun) menyerbu kompleks masjid dan mulai melepaskan tembakan. Amin Abdullah, yang berada di dekat area pintu masuk dan sekolah, bergegas mengunci dan menutup pintu, sambil menempatkan dirinya sebagai baris pertama antara pelaku dan puluhan jamaah serta anak-anak di dalam.
Menurut rekonstruksi saksi dan kepolisian, Amin berseru “Tutup pintunya!” sebelum menahan pelaku, menerima beberapa tembakan yang menewaskannya, namun memberi waktu bagi sekitar 150 orang untuk berevakuasi atau terlindungi. Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, menyebut Amin memiliki “peran penting” dalam mengurangi jatuhnya korban, menggambarkannya sebagai “pahlawan” yang menyelamatkan banyak nyawa melalui pengorbanan diri. “Jika bukan karena Amin, insiden ini mungkin menjadi lebih besar dan kejam,” ujar Wahl, dalam pernyataan resmi.
Akibat aksinya, hanya tiga orang yang tewas di lokasi, termasuk guru dan pegawai lain, sebelum dua pelaku diduga melakukan bunuh diri di dalam mobil tidak jauh dari masjid. Insiden ini menewaskan total lima jiwa dan menyoroti keberanian Amin sebagai tameng hidup yang menghadapi kematian demi komunitasnya.
Latar Belakang Peristiwa Penembakan
Insiden di Islamic Center of San Diego, pusat komunitas Muslim terbesar di San Diego County, terjadi saat beberapa anak sedang menjalani kegiatan pendidikan di gedung sekolah. Setelah penembakan pertama, polisi dan petugas darurat tiba dalam beberapa menit, menemukan tiga korban di dalam kompleks dan memastikan anak-anak telah dievakuasi dengan selamat.
Kepolisian setempat dan FBI segera menyelidiki kemungkinan motif kebencian terhadap Muslim, dengan menemukan tulisan anti-Islam, ujaran kebencian, dan dokumen supremasi ras di dalam kendaraan pelaku. Dugaan awal mengarah pada kejahatan kebencian, dengan pelaku yang terpapar ekstremisme sayap kanan dan propaganda online, meski motif pasti masih dalam pendalaman. Serangan ini menandai peningkatan ketegangan terhadap keamanan tempat ibadah di AS, setelah serangkaian serupa di tahun-tahun sebelumnya.
Tanggapan Komunitas atas Peristiwa Itu
Komunitas global bereaksi dengan duka dan solidaritas mendalam terhadap tragedi tersebut. Organisasi Council on American-Islamic Relations (CAIR) mengecam penembakan sebagai “aksi kekerasan mengerikan” yang tidak pantas menimpa siapa pun di sekolah atau tempat ibadah, menyerukan penegakan hukum yang tegas terhadap kejahatan kebencian. Wali Kota San Diego, Todd Gloria, menyatakan “Islamofobia tak ada tempat di sini,” menegaskan bahwa serangan terhadap komunitas mana pun adalah serangan terhadap semua warga kota, dengan janji kekuatan penuh penegak hukum.
Di Indonesia, banyak tokoh masyarakat, ulama, dan aktivis HAM mengutuk kekerasan tersebut, menyoroti Amin sebagai syuhada (martir) yang meninggal dengan misi mulia melindungi nyawa. Donasi untuk keluarga Amin, seorang ayah berpenghasilan sedang, mengalir deras melalui platform global, mencapai lebih dari 1,4 juta dolar AS dalam beberapa hari, menunjukkan dukungan internasional terhadap warisan heroiknya.
Pelaku Penembakan
Pelaku penembakan di Islamic Center of San Diego adalah dua remaja laki-laki berusia 17 dan 19 tahun, yang teridentifikasi oleh pihak berwenang. Keduanya melepaskan tembakan di dalam kompleks, menewaskan tiga orang, sebelum ditemukan tewas di dalam mobil tidak jauh dari lokasi; kepolisian menyatakan pelaku diduga bunuh diri dan tidak ada keterlibatan polisi dalam penembakan tersebut. Penyelidikan lanjutan oleh FBI berfokus pada jaringan ekstremisme online dan latar belakang radikalisasi, dengan kemungkinan tuntutan kejahatan kebencian jika bukti kuat terungkap.
Foto : Istimewa
