Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah penelitian terbaru mengungkap temuan yang memicu perdebatan mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses perekrutan tenaga kerja.
Studi tersebut menunjukkan bahwa ChatGPT cenderung menilai pekerja berusia lebih tua kurang cocok untuk sejumlah pekerjaan modern dibandingkan kandidat yang lebih muda.
Penelitian yang dilakukan oleh akademisi dari University of Melbourne itu menyoroti potensi bias usia atau ageism yang masih tertanam dalam sistem AI generatif.
Hasil studi menunjukkan bahwa ketika ChatGPT diminta mengevaluasi kandidat untuk berbagai posisi pekerjaan, sistem tersebut lebih sering mengaitkan pekerjaan yang dinamis dan berbasis teknologi dengan pelamar yang lebih muda.
Profesor Alysia Blackham dari University of Melbourne mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa AI berpotensi memperkuat stereotip yang sudah lama ada di dunia kerja.
“Penelitian baru menunjukkan bahwa ChatGPT lebih menyukai pekerja yang lebih muda untuk dunia kerja yang bergerak cepat saat ini, dan hal itu mungkin berkontribusi terhadap tingginya tingkat diskriminasi usia dalam proses rekrutmen,” ujar Blackham dikutip dari WIO News.
Menurut penelitian tersebut, bias bukan berarti AI secara eksplisit menolak pekerja berusia lanjut. Namun, sistem cenderung mengasosiasikan karakteristik seperti kemampuan beradaptasi, penguasaan teknologi, dan inovasi dengan kelompok usia yang lebih muda.
Akibatnya, kandidat berusia di atas 45 tahun berisiko dipersepsikan kurang sesuai untuk sejumlah posisi tertentu.
Temuan ini menambah daftar kekhawatiran mengenai penggunaan AI dalam proses perekrutan.
Sejumlah penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa model AI dapat mereproduksi berbagai bentuk bias sosial yang terdapat dalam data pelatihannya, termasuk bias terkait usia dan gender.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa pekerja senior tetap memiliki keunggulan yang sulit digantikan oleh teknologi.
Pengalaman panjang, kemampuan mengambil keputusan, pemecahan masalah, serta pengawasan etis menjadi nilai tambah yang sangat dibutuhkan dalam lingkungan kerja modern.
Blackham mengingatkan bahwa perusahaan tidak boleh sepenuhnya bergantung pada AI dalam mengambil keputusan perekrutan.
“Jika sistem AI digunakan tanpa pengawasan yang memadai, ada risiko bahwa diskriminasi usia yang sudah ada justru akan semakin diperkuat,” katanya.
Temuan tersebut sekaligus menjadi peringatan bagi perusahaan yang mulai mengandalkan kecerdasan buatan dalam proses seleksi karyawan.
Transparansi, audit algoritma, dan evaluasi manusia dinilai tetap penting untuk memastikan setiap kandidat mendapatkan kesempatan yang adil, tanpa memandang usia mereka.
