Prancis, GPriority.co.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Amerika Serikat dan Iran dalam sebuah jamuan makan malam bersama Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di Istana Versailles, Prancis, Rabu (17/6) waktu setempat.
Penandatanganan tersebut menandai berlakunya kesepakatan yang bertujuan mengakhiri konflik antara kedua negara sekaligus membuka jalan bagi perundingan perdamaian jangka panjang.
Kesepakatan ini sebelumnya telah ditandatangani secara digital oleh pejabat kedua negara, namun Trump memilih melakukan penandatanganan fisik dalam acara resmi di Versailles. Dalam video yang dibagikan Macron, Trump terlihat menandatangani dokumen tersebut di hadapan para tamu undangan.
Dalam pernyataannya, Trump mengakui bahwa proses menuju kesepakatan tidaklah mudah. Ia menegaskan bahwa perjanjian tersebut merupakan hasil dari proses diplomasi yang panjang dan penuh tantangan.
“Ini bukan hal yang mudah,” ungkap Trump dikutip dari laporan The Times of India.
Menurut laporan sejumlah media internasional, MoU tersebut langsung berlaku setelah ditandatangani kedua pihak.
Kesepakatan mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran strategis dunia, serta dimulainya periode negosiasi selama 60 hari untuk membahas isu nuklir dan keamanan kawasan secara lebih rinci.
Selain itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga menandatangani dokumen yang sama sebagai bentuk komitmen Teheran terhadap proses perdamaian. Kesepakatan tersebut disebut sebagai salah satu perkembangan diplomatik paling signifikan dalam hubungan AS-Iran dalam beberapa dekade terakhir.
Meski demikian, Washington menegaskan bahwa keberlanjutan kesepakatan akan bergantung pada kepatuhan Iran terhadap hasil negosiasi mendatang. Pejabat AS menyatakan bahwa sanksi ekonomi dapat diberlakukan kembali apabila Iran tidak memenuhi komitmen yang telah disepakati.
Para pemimpin negara-negara G7 menyambut positif perkembangan tersebut karena dinilai berpotensi menurunkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan membantu menstabilkan jalur perdagangan energi global.
