Jakarta, GPriority.co.id – Di tengah budaya kerja yang semakin sibuk, banyak karyawan memilih melewatkan jam makan siang demi menyelesaikan tugas lebih cepat.
Namun, berbagai penelitian dan pakar karier justru menunjukkan bahwa pekerja yang rutin mengambil waktu istirahat makan siang cenderung lebih produktif, lebih kreatif, dan memiliki peluang lebih besar untuk meraih kesuksesan dalam karier mereka.
Berdasarkan laporan yang diulas oleh YourTango mengungkap bahwa kebiasaan meninggalkan meja kerja sejenak saat jam makan siang bukanlah tanda kemalasan. Sebaliknya, jeda singkat tersebut membantu otak memulihkan fokus dan energi sehingga karyawan dapat bekerja lebih efektif sepanjang hari.
Temuan ini sejalan dengan sejumlah studi yang menunjukkan bahwa istirahat kerja berperan penting dalam menjaga performa dan kesejahteraan pekerja.
Menurut Susan Randolph dalam jurnal ‘Workplace Health & Safety’, istirahat kerja memungkinkan karyawan memberikan waktu bagi otak untuk memproses informasi dan memunculkan ide-ide baru.
Ia menegaskan bahwa jeda dari pekerjaan mental dapat membuat tugas terasa tidak terlalu membosankan sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.
Selain meningkatkan fokus, jam makan siang juga memberikan kesempatan untuk membangun hubungan sosial di lingkungan kerja. Interaksi informal dengan rekan kerja sering kali membuka peluang kolaborasi, memperluas jaringan profesional, hingga membantu memahami dinamika kantor yang tidak selalu terlihat dalam rapat formal.
Pakar psikologi organisasi dari University of California, Davis, Kimberly Elsbach, menjelaskan pentingnya keluar dari lingkungan kerja untuk sementara waktu.
“Kami tahu bahwa kreativitas dan inovasi terjadi ketika orang mengubah lingkungannya, terutama ketika mereka berada di lingkungan yang lebih dekat dengan alam,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa berjalan kaki singkat atau menikmati makan siang di luar ruang kerja dapat memberikan dampak positif terhadap kemampuan berpikir dan pemecahan masalah.
Sayangnya, banyak pekerja masih merasa bersalah ketika mengambil waktu istirahat. Survei Tork menemukan bahwa sebagian karyawan khawatir dianggap kurang rajin jika rutin mengambil jam makan siang.
Padahal, penelitian yang sama menunjukkan bahwa pekerja yang mengambil istirahat makan siang setiap hari merasa lebih berenergi, lebih terlibat dalam pekerjaan, dan lebih puas dengan karier mereka.
Jennifer Deal, ilmuwan riset dari University of Southern California, menegaskan bahwa persepsi tersebut keliru.
“Keengganan mengambil istirahat makan siang sering dianggap sebagai bentuk dedikasi terhadap pekerjaan. Kenyataannya, meluangkan waktu untuk makan siang dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan keterlibatan, dan memulihkan energi sehingga karyawan merasa lebih efektif dan produktif saat kembali bekerja,” katanya.
Dengan semakin tingginya risiko kelelahan kerja atau burnout, para ahli menyarankan pekerja untuk tidak mengabaikan jam makan siang. Istirahat singkat di tengah hari bukan hanya baik untuk kesehatan, tetapi juga dapat menjadi investasi penting bagi kesuksesan karier jangka panjang.
