Jakarta, GPriority.co.id – Jumlah pengangguran berlatar belakang pendidikan sarjana di Indonesia menembus lebih dari satu juta orang.
Berdasarkan data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 yang dilansir Kompas, terdapat 1.033.182 orang pengangguran yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana.
Angka tersebut setara dengan 14,31 persen dari total sekitar 7,22 juta penduduk usia kerja yang menganggur pada Mei 2026. Kelompok pengangguran berpendidikan sarjana yang dimaksud mencakup lulusan sarjana terapan, S-1, S-2, hingga S-3.
Data ini menjadi perhatian karena terjadi ketika tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia secara umum justru menunjukkan kecenderungan menurun.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat TPT pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen, turun 0,08 persen poin dibandingkan Februari 2025. Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang dan penduduk yang bekerja sebanyak 147,67 juta orang.
Jika dibandingkan dengan kondisi pada Sakernas Agustus 2022, jumlah penduduk usia kerja yang menganggur saat itu mencapai sekitar 8,43 juta orang. Dari jumlah tersebut, penganggur berlatar belakang sarjana berada pada kisaran 7,98 persen.
Artinya, meskipun jumlah maupun proporsi pengangguran secara keseluruhan cenderung mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, porsi pengangguran berpendidikan sarjana justru meningkat. Dari sekitar 7,98 persen pada Agustus 2022 menjadi 14,31 persen pada Mei 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pasar kerja tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah lapangan pekerjaan, tetapi juga kemampuan pasar menyerap tenaga kerja dengan tingkat pendidikan tinggi. Pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi perlu diimbangi dengan ketersediaan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi serta kebutuhan industri.
BPS menjelaskan Sakernas digunakan untuk memperoleh estimasi jumlah penduduk bekerja, pengangguran berdasarkan berbagai karakteristik sosial-demografi, serta indikator ketenagakerjaan lainnya. Mulai 2025, pelaksanaan Sakernas dilakukan setiap triwulan, sehingga Sakernas Mei 2026 menjadi salah satu periode pengukuran baru dalam sistem tersebut.
Sementara itu, data BPS juga menunjukkan penyerapan tenaga kerja nasional masih banyak ditopang sektor pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta industri. Ketiga sektor tersebut menyerap 60,29 persen tenaga kerja nasional pada Februari 2026.
Meningkatnya proporsi pengangguran sarjana menjadi tantangan bagi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha untuk memperkuat keterhubungan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja. Bukan hanya menciptakan lulusan, tetapi juga memastikan kompetensi mereka relevan dengan perubahan struktur ekonomi dan kebutuhan industri.
