Pemkab Fakfak Peringati 666 Tahun Islam di Tanah Papua

Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, saat mengikuti rangkaian kegiatan peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua di Kabupaten Fakfak, Sabtu (8/8) lalu/Foto : Dok. Instagram @pemkabfakfak Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, saat mengikuti rangkaian kegiatan peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua di Kabupaten Fakfak, Sabtu (8/8) lalu/Foto : Dok. Instagram @pemkabfakfak

Fakfak, GPriority.co.id – Kabupaten Fakfak kembali menjadi bagian penting dalam mengenang perjalanan panjang sejarah masuknya Islam di Tanah Papua.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Fakfak menggelar rangkaian Milad 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua yang tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah, tetapi juga menguatkan nilai persaudaraan, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama.

Dilansir dari unggahan Instagram resmi @pemkabfakfak, rangkaian peringatan diawali dengan ziarah ke makam Syekh Abdul Ghaffar, yang dikenal sebagai Sang Pembawa Cahaya. Ziarah berlangsung di Kampung Gar, Distrik Furwagi, pada 6 Agustus 2026.

Ziarah makam tersebut menjadi momentum untuk mengenang jasa dan perjuangan para pembawa cahaya Islam di Tanah Papua. Selain mengenang perjalanan sejarah, kegiatan itu juga mengajak generasi penerus untuk meneladani nilai-nilai keimanan, kedamaian, persaudaraan, dan kasih sayang yang diwariskan oleh para pendahulu.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut dengan Puncak Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua yang dilaksanakan di Kabupaten Fakfak pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Peringatan tersebut menjadi bagian dari upaya merawat sejarah sekaligus menjadikan perjalanan masuknya Islam di Papua sebagai refleksi kehidupan masyarakat saat ini. Nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu diharapkan tetap menjadi pijakan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat Papua.

“Merawat sejarah, memperkuat persaudaraan, menebar cinta kasih dan kedamaian di Bumi Cenderawasih,” demikian pesan yang disampaikan dalam rangkaian peringatan tersebut.

Momentum 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua juga ditekankan bukan sekadar kegiatan seremonial. Peringatan ini menjadi refleksi untuk terus memperkuat persaudaraan, toleransi, cinta kasih, dan kerukunan antarumat beragama dalam bingkai kehidupan masyarakat Papua yang damai dan harmonis.

Nilai tersebut sejalan dengan perhatian pemerintah daerah di Papua terhadap pentingnya menjaga kehidupan masyarakat yang majemuk. Gubernur Papua Matius D. Fakhiri sebelumnya menegaskan bahwa Papua merupakan wilayah multietnis dan multiagama sehingga toleransi dan kebersamaan perlu terus dipelihara.

“Papua adalah daerah yang multietnis dan multiagama. Karena itu toleransi harus terus dijaga agar kehidupan masyarakat tetap rukun dan damai,” ujarnya.

Dengan demikian, peringatan sejarah masuknya Islam di Tanah Papua di Fakfak tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga persaudaraan dan kedamaian bagi generasi mendatang.