Tanjung Selor, GPriority.co.id – Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Utara memastikan event pariwisata pada Calendar of Event 2026 tetap dapat dilaksanakan dengan memperhitungkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama untuk kegiatan di ruang terbuka.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltara Njau Anau mengatakan, kondisi karhutla di wilayah tersebut secara umum masih terkendali. Berdasarkan data SiPongi yang dihimpun Dinas Kehutanan Kaltara, luas indikasi karhutla hingga Juli 2026 mencapai 400,62 hektare dan menjadi yang terendah di antara provinsi-provinsi di Kalimantan.
“Karhutla tentu menjadi salah satu faktor risiko yang kami perhitungkan dalam pelaksanaan Calendar of Event, khususnya untuk kegiatan yang dilaksanakan di ruang terbuka. Namun, kondisi karhutla di Kaltara secara umum masih dalam kategori yang dapat dikendalikan dan tidak berarti seluruh kegiatan pariwisata harus dihentikan,” ujar Njau.
Meski demikian, kewaspadaan ditingkatkan memasuki September. Pemantauan pada 5 September 2026 masih menemukan sejumlah titik panas di Kabupaten Bulungan. Data pemantauan satelit yang dihimpun pemerintah daerah pada waktu itu mencatat 14 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang di wilayah tersebut.
Menurut Njau, penilaian terhadap pelaksanaan event tidak hanya didasarkan pada ada atau tidaknya karhutla. Dinas Pariwisata juga mempertimbangkan kualitas udara, jarak pandang, kondisi cuaca, lokasi kegiatan, serta aspek keselamatan masyarakat dan wisatawan.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan BMKG, BPBD, Dinas Kehutanan, Dinas Kesehatan dan instansi terkait untuk memastikan setiap kegiatan tetap aman dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan,” katanya.
Event Pariwisata Dapat Disesuaikan
Njau menegaskan event tetap berjalan selama kondisi keselamatan dan kesehatan masyarakat serta wisatawan masih memungkinkan. Namun, apabila situasi tidak mendukung, pemerintah tidak akan memaksakan pelaksanaan kegiatan.
Dinas Pariwisata akan melakukan pemantauan kondisi secara berkala dan berkoordinasi dengan instansi teknis. Jika diperlukan, pelaksanaan event dapat disesuaikan melalui perubahan waktu, pengurangan kegiatan luar ruangan, pemindahan sebagian agenda ke ruang tertutup, atau penjadwalan ulang.
“Keselamatan masyarakat dan wisatawan menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Pendekatan tersebut dilakukan karena periode risiko karhutla 2026 diperkirakan berlangsung pada Mei hingga September, dengan puncak risiko sekitar Agustus dan September. Pada awal September, pemantauan BMKG mendeteksi 218 titik panas di Kaltara dalam satu hari, dengan konsentrasi terbesar di Kabupaten Bulungan.
Njau mengingatkan, titik panas merupakan indikator yang masih perlu diverifikasi di lapangan dan tidak otomatis menunjukkan seluruh titik sebagai kebakaran besar.
Efisiensi dan Kurasi Event
Selain risiko karhutla, Dinas Pariwisata Kaltara juga menyesuaikan penyelenggaraan event dengan kebijakan efisiensi anggaran.
“Efisiensi anggaran tentu memberikan pengaruh terhadap ruang fiskal penyelenggaraan event, tetapi bukan berarti Calendar of Event harus dihentikan. Justru efisiensi mendorong kami untuk melakukan prioritas dan kurasi,” kata Njau.
Ia mengatakan tidak semua event harus diselenggarakan dengan dukungan anggaran pemerintah yang besar. Dinas Pariwisata akan memprioritaskan kegiatan yang memiliki daya tarik kuat, mencerminkan identitas Kaltara, berpotensi mendatangkan wisatawan, dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Di sisi lain, kami juga akan memperkuat kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, pelaku usaha, komunitas, UMKM dan pihak swasta,” ujarnya.
Menurut Njau, penerapan pendekatan tersebut terlihat dalam pelaksanaan Iraw Tengkayu XV 2026. Meskipun berlangsung di tengah efisiensi anggaran, event itu tetap dilaksanakan dengan sejumlah penyesuaian.
Pelaksanaan Iraw Tengkayu XV 2026 difokuskan pada pelestarian budaya dan pemberdayaan pelaku seni. Dinas Pariwisata berharap pola tersebut dapat menjadi model penyelenggaraan event yang tetap berjalan, tetapi lebih selektif, aman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Foto : Istimewa
