Yerusalem, GPriority.co.id – Pemilu parlemen Israel pada Selasa (27/10) kemarin menjadi ujian politik besar bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Hasil jajak pendapat keluar menunjukkan persaingan ketat antara blok pemerintahan Netanyahu dan oposisi yang dipimpin mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot. Namun, kedua kubu belum menunjukkan jalur yang jelas untuk memperoleh mayoritas parlemen.
Mengutip laporan Reuters, sekitar 7,3 juta warga Israel memiliki hak pilih dalam pemilu yang menentukan komposisi 120 kursi Knesset. Sebanyak 12.018 tempat pemungutan suara disiapkan di seluruh negeri. Pemilu ini menjadi yang pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan rangkaian perang yang menyusul di Gaza, Lebanon, serta Iran.
Dua lembaga penyiaran Israel memperkirakan blok oposisi Eisenkot unggul tipis, sedangkan lembaga lainnya memproyeksikan persaingan imbang. Tidak satu pun blok diperkirakan mencapai 61 kursi, jumlah minimum untuk membentuk pemerintahan mayoritas.
Situasi tersebut menjadi kemunduran bagi koalisi Netanyahu yang sebelumnya menguasai 68 kursi. Meski demikian, hasil akhir masih harus menunggu penghitungan resmi dan negosiasi koalisi. Netanyahu juga berpeluang tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara selama proses pembentukan pemerintahan berlangsung.
Dari sisi profil, Netanyahu, 77 tahun, merupakan salah satu pemimpin terlama dalam sejarah Israel. Ia pernah menjabat pada 1996–1999, 2009–2021, dan kembali berkuasa sejak Desember 2022. Pemimpin Partai Likud tersebut mengandalkan pengalaman politik serta citra ketegasan dalam menghadapi ancaman keamanan.
Namun, kepemimpinannya menghadapi kritik menyusul kegagalan keamanan dalam mencegah serangan 7 Oktober 2023. Ia juga menghadapi persidangan kasus korupsi yang dibantahnya. Koalisi sayap kanan yang dipimpinnya turut menuai kontroversi di dalam negeri dan tekanan internasional.
Sementara itu, Eisenkot, 66 tahun, adalah mantan kepala militer Israel yang mendirikan Partai Yashar pada 2025. Ia membangun citra sebagai tokoh berlatar belakang militer yang menawarkan perubahan kepemimpinan dan akuntabilitas. Ia meninggalkan kabinet perang Netanyahu pada 2024 setelah mengkritik arah kepemimpinan pemerintah.
Meski menawarkan alternatif politik, Eisenkot bukan tokoh yang lunak dalam persoalan keamanan. Ia menolak pembentukan negara Palestina dan menegaskan sayap militer Hamas harus dihancurkan atau dilumpuhkan.
Pemimpin oposisi Yair Lapid menyebut hasil jajak pendapat tersebut sebagai kekalahan besar bagi kubu Netanyahu.
“Jangan biarkan siapa pun membingungkan kalian: blok Netanyahu telah mengalami kekalahan telak,” katanya.
Namun, keunggulan oposisi belum menjamin pergantian pemerintahan. Partai-partai Arab berpotensi menentukan keseimbangan kursi, sementara sikap Eisenkot yang menolak berkoalisi dengan mereka dapat mempersulit pembentukan pemerintahan baru.
Dengan hasil resmi yang masih dinantikan, masa depan politik Netanyahu akan ditentukan oleh penghitungan suara dan kemampuan masing-masing kubu meraih dukungan mayoritas Knesset.
