Profil Alvin Tedjo: Anak Imigran Indonesia yang Terpilih Jadi Wali Kota Kanada

Alvin Tedjo, politikus berusia 43 tahun keturunan Indonesia-Tionghoa, terpilih sebagai Wali Kota Mississauga, Ontario, Kanada, dalam pemilihan munisipal pada Senin (26/10)/Foto : Dok. Istimewa Alvin Tedjo, politikus berusia 43 tahun keturunan Indonesia-Tionghoa, terpilih sebagai Wali Kota Mississauga, Ontario, Kanada, dalam pemilihan munisipal pada Senin (26/10)/Foto : Dok. Istimewa

Mississauga, GPriority.co.id – Alvin Tedjo, politikus berusia 43 tahun keturunan Indonesia-Tionghoa, terpilih sebagai Wali Kota Mississauga, Ontario, Kanada, dalam pemilihan munisipal pada Senin (26/10) lalu.
Ia mengungguli wali kota petahana Carolyn Parrish dan mantan wali kota Bonnie Crombie, sekaligus membuka babak baru dalam perjalanan politiknya.

Berdasarkan hasil tidak resmi yang diumumkan Pemerintah Kota Mississauga, Alvin memperoleh 74.479 suara atau 39,21 persen. Sementara itu, Parrish meraih 51.853 suara dan Crombie memperoleh 43.191 suara. Kemenangan tersebut menjadi sorotan karena Alvin sebelumnya dinilai belum memiliki pengalaman yang cukup untuk memimpin kota tersebut.

Perjalanan Alvin Tedjo memiliki keterkaitan erat dengan Mississauga. Mengutip laporan detikBali yang merujuk Toronto Star, orang tua Alvin merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia yang menetap di Kanada ketika ia berusia empat tahun.

Sejak kecil, Alvin tumbuh di pusat kota dengan pemandangan balai kota di depan rumahnya. Ketertarikannya pada dunia pemerintahan berkembang sejak masa sekolah. Saat duduk di bangku SMA, ia pernah menjadi ketua pelajar dan anggota komite penasihat pemuda untuk wali kota.

Pada pertengahan 1990-an, Alvin bertemu dengan Hazel McCallion, wali kota Mississauga saat itu, setelah memenangkan penghargaan Young Citizen of the Year.

“Terjunlah ke dunia politik, anak muda,” ujar Alvin menirukan ucapan McCallion kala itu, sebagaimana dikutip detikBali pada Rabu (28/10).

Ucapan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dari kisah perjalanan Alvin menuju kepemimpinan kota yang telah menjadi rumahnya sejak kecil.

Sebelum terjun lebih jauh ke politik lokal, Alvin pernah bekerja sebagai penasihat dan staf politik di Kementerian Perguruan Tinggi dan Universitas Ontario. Ia juga menghabiskan empat tahun di bidang hubungan pemerintahan Sheridan College, sebelum memimpin strategi dan komunikasi di Toronto Metropolitan University.

Pada 2022, Alvin terpilih sebagai anggota Dewan Kota Mississauga. Ia terlibat dalam sejumlah komite yang membahas anggaran, audit, pembangunan, dan lingkungan. Dalam kiprahnya sebagai anggota dewan, ia turut mendorong transportasi publik gratis bagi anak-anak, pengembangan ruang hijau, serta perluasan layanan penampungan bagi warga tunawisma.

Alvin sebelumnya juga pernah mengikuti pemilihan wali kota pada 2024, tetapi berada di posisi kedua. Dua tahun kemudian, ia kembali berkontestasi dan berhasil mengungguli para pesaingnya.

Dalam pidato kemenangannya, Alvin menyoroti keinginan warga untuk mengubah arah pemerintahan kota.

“Warga Mississauga telah memilih perubahan,” kata Alvin di hadapan para pendukungnya, dikutip dari Liputan6.

Ia juga menyebut keputusan warga tersebut sebagai langkah bersejarah untuk menuntut perubahan dalam pemerintahan kota.
Kemenangan Alvin menjadi perhatian publik Indonesia karena latar belakang keluarganya.

Kisahnya memperlihatkan perjalanan seorang anak imigran yang tumbuh di Mississauga, meniti karier di pemerintahan dan pendidikan, hingga terpilih memimpin kota tempat ia dibesarkan.