Pada periode perlambatan ekonomi yang ekstrem seperti yang dialami Indonesia akibat kemunculan Covid-19 tahun 2020, industri sawit adalah satu dari sedikit kegiatan ekonomi yang masih berjalan dengan baik dan menyumbangkan kekuatan finansial bagi Indonesia.
Tidak hanya itu kegiatan operasional di perkebunan kelapa sawit tetap berjalan normal dengan tetap memberlakukan protokol Kesehatan yang ketat sehingga petani dan tenaga kerja di sektor sawit tetap terjamin kesejahteraannya di tengah masa pandemi. Ini semua tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah yang terus konsisten dalam mengimplementasikan seluruh program kerja BPDPKS pada tahun 2021.
Kelapa Sawit sendiri hingga saat ini masih sebagai salah satu komoditas perkebunan yang terbukti memiliki peran penting dalam perekonomian di Indonesia, salah satunya sebagai sumber devisa negara non migas, penyedia lapangan kerja, serta menjadi bahan baku berbagai industri pengolahan di Indonesia.
Kelapa sawit juga menjadi tumbuhan industri penghasil minyak masak, minyak industri, margarin, Iilin, sabun, Industri kosmetik, industri farmasi hingga menjadi bahan bakar biodiesel.Bahkan sisa pengolahan kelapa sawit dapat dimanfaatkan menjadi kompos, campuran bahan pakan ternak, biogas dan lain sebagainya. “Semuanya merupakan bukti bahwa industri kelapa sawit hingga saat ini tetap menjadi mesin penggerak perekonomi Indonesia , sekaligus meningkatkan taraf hidup banyak orang, memberi akses pendidikan, layanan kesehatan, teknologi dan informasi,” ucap Eddy Abdurrachman, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pada press conference akhir tahun BPDPKS Selasa, 28 Desember 2021 di Hotel Pullman Jakarta.
Eddy dalam siaran persnya juga mengatakan bahwa Industri kelapa sawit telah berkontribusi pada pendapatan pemerintah, keuntungan bagi perusahaan, lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan bagi petani kecil.
BPDPKS Terus Menjaga Sawit Melewati Pandemi 2021
Eddy dalam siaran persnya juga menjelaskan mengenai alasan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan mendirikan BPDPKS. Menurut Eddy BPDPKS didirikan pada tahun 2015 untuk mendorong pembangunan dan keberlanjutan sektor kelapa sawit melalui pengelolaan dana yang prudent, transparan, dan akuntabel.
“Sebagai lembaga pengelola dana, BPDPKS memastikan prinsip “from palm oil to palm oil diterapkan di setiap program. Kinerja penghimpunan dana BPDPKS di tahun 2021 dari pungutan ekspor sawit mencapai lebih dari Rp.69 triliun yang digunakan untuk menjalankan program-program tersebut, yang meliputi pemberian dukungan untuk program mandatori biodiesel, peremajaan sawit rakyat, penyediaan sarana dan prasarana kelapa sawit, penelitian dan pengembangan, pengembangan SDM serta program promosi dan kemitraan,” lanjut Eddy.
Eddy dalam paparannya juga mengatakan, Seluruh kegiatan prioritas yang dilakukan oleh BPDPKS ditujukan dalam rangka pengembangan kelapa sawit berkelanjutan dengan tujuan utama menjaga stabilisasi harga dan efisiensi biaya produksi yang dilakukan melalui penciptaan kualitas produk yang unggul, kepastian supply, kepastian pasar dan tersedianya infrastruktur yang mendukung, utamanya untuk melakukan transformasi kesejahteraan rakyat melalui industri kelapa sawit yang berkelanjutan.
Terkait dengan capaiannya, Direktur Utama BPDPKS tersebut juga menyampaikan bahwa ada banyak capaian yang sudah dilaksanakan oleh BPDPKS, seperti kinerja program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Eddy menjelaskan, “Sejak tahun 2016 sampai dengan 2021, realisasi penyaluran dana PSR seluas 242.537 Ha untuk 105.684 perkebunan dengan dana mencapai Rp.6,59 triliun yang tersebar di 21 Provinsi di Indonesia. Capaian di tahun 2021 ini memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yang antara lain disebabkan oleh legalitas lahan khususnya yang terkait dengan kawasan hutan dan tumpang tindih lahan, permasalahan kelembagaan perkebunan dan tingginya harga CPO yang menyebabkan keengganan pekebun untuk memulai penanaman kembali.”
Di sisi lain, Program Insentif Biodiesel dalam kerangka pendanaan BPDPKS yang diimplementasikan sejak tahun 2015 dengan tujuan untuk menjaga stabilitas harga CPO, mendorong kemandirian dan ketahanan energi nasional, pengurangan emisi gas rumah kaca dan penghematan devisa yang berasal dari berkurangnya impor solar hingga tahun 2021, telah menyalurkan volume biodiesel sebesar 33,07 juta KL dengan penghematan devisa akibat tidak perlu impor bahan bakar minyak jenis minyak solar sebesar Rp 209,62 Triliun dan pengurangan emisi gas rumah kaca sekitar 49,45 Juta Ton CO2e.
“Dengan tren peningkatan harga minyak dunia dan ekspektasi normalisasi harga CPO, maka diharapkan selisih harga biodiesel dan solar di tahun 2022 akan lebih baik lagi,” imbuh Eddy.
Mengenai kinerja program penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan sejak tahun 2015 hingga 2021. BPDPKS telah mendanai 234 riset yang melibatkan 840 peneliti dan 346 mahasiswa di 69 lembaga penelitian dan pengembangan di Indonesia dengan dana yang telah disalurkan sejumlah Rp.389,3 miliar.
” Di tahun 2021 ini, BPDPKS akan lebih selektif dalam pendanaan dengan prioritas riset-riset yang berpotensi untuk mencapai komersialisasi dan dimanfaatkan langsung oleh industri sawit,” jelasnya.
Sementara untuk capaian program pengembangan SDM, sejak tahun 2015 hingga 2021 telah melibatkan 9.679 peserta pelatihan dan 3.265 mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dengan dana yang telah disalurkan sebanyak Rp. 199,01 Miliar. Program promosi dan kemitraan juga mencatatkan capaian realisasi terbesar sejak BPDPKS didirikan di tahun 2021. Total capaian program promosi dan kemitraan sejak tahun 2015 sampai dengan 2021 yaitu sebesar Rp.318,5 miliar.
Eddy juga mengatakan bahwa program Sarana dan Prasarana juga telah mulai diimplementasikan di tahun 2021 ini dengan kerjasama dan sinergi yang baik antara BPDPKS Direktorat Jenderal Perkebunan dan Dinas-dinas perkebunan daerah dengan empat lembaga pekebun yang telah ditetapkan sebagai penerima sarana dan prasarana perkebunan. ” Adapun sinergi yang dilakukan berupa peningkatan jalan produksi, penyediaan benih, pupuk dan pestisida dengan total nilai sebesar Rp.21.1 miliar,” tuturnya.
Menutup paparannya, Eddy yakin capaian ini akan bisa semakin meningkat di tahun 2022 nanti.” Tahun 2022 merupakan tantangan baru bagi BPDPKS dan industri sawit untuk dapat mempertahankan kinerja dan capaiannya. Untuk itulah kami berharap agar sinergi ini bisa terus berlanjut sehingga peningkatan bisa terjadi di tahun 2022,” tutup Eddy.(Hs.Foto.Hs)
