Jakarta,GPriority.co.id-Hafshah binti Umar bin Khattab ra. adalah salah satu dari istri Rasulullah saw. tepatnya istri Rasul keempat setelah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, Saudah binti Hisyam dan Aisyah binti Abu Bakar. Hafshah adalah putri sahabat Rasulullah yang bernama Umar bin Khattab. Beda usia Hafshah dengan Rasulullah terpaut 35 tahun.
Rasulullah saw. menikahi Hafshah pada tahun ke-3 Hijrah, saat ia berusia 18 tahun dengan status janda karena ditinggal syahid oleh suami pertamanya dalam perang Badar yang bernama Khunais bin Khudzaifah. Khunais merupakan seorang sahabat Nabi yang termasuk ke dalam golongan assabiqunal awwalun, atau orang yang pertama kali masuk Islam dan beliau pernah ikut hijrah ke Thaif sebelum ke hijrah ke Madinah.
Sepeninggalnya Khunais bin Khudzaifah, Umar berharap ada lelaki yang mau meminangnya. Diantara para sahabat, Umar berharap Abu Bakarlah yang bersedia menikahi anaknya, Hafshah. Namun, Abu Bakar menolak secara halus permintaan Umar tersebut. Kemudian Umar mendatangi sahabatnya yang lain, yakni Utsman bin Affan yang saat itu menjadi duda karena istrinya, Ruqayyah binti Muhammad meninggal karena sakit. Tapi Utsman juga menolak dan mengatakan bahwa dirinya belum siap menikah kembali.
Umar kemudian menghadap Rasulullah saw. dan mengungkapkan kekecewaannya kepada dua sahabatnya yang tidak bersedia menikah Hafshah. Nabi saw. kemudian mengatakan bahwa ada orang yang bersedia menikahi Hafshah, orang tersebut lebih baik dari Abu Bakar, dan Utsman juga akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafshah. Umar memaklumi ucapan Rasulullah tersebut. Tak lama kemudian Hafshah menjadi istri Rasul.
Hafshah adalah seorang muslimah shalihah yang ahli puasa. Hafshah tidak hanya berpuasa pada bulan Ramadhan, tapi selain pada bulan Ramadhan putri Umar bin Khattab ini hampir setiap hari berpuasa. Hafshah memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hati Nabi saw., bahkan termasuk salah seorang istri beliau yang istimewa di antara istri-istri beliau lainnya. Aisyah ra. pernah mengakui hal ini. Ia berkata, “Hafshah adalah termasuk salah seorang istri Nabi saw. yang nyaris setara denganku.” (Lihat Siar A’laam An-Nubulaa’ karya Adz-Dzahabi vol. 2 hal. 227).
Kendati demikian, kehidupan istri-istri Rasulullah yang suci itu tidak lepas dari perasaan-perasaan manusiawi sebagaimana wanita pada umumnya, seperti kecemburuan, persaingan, dan lain sebagainya. Untuk menghadapi persoalan ini, Rasulullah terus menerapkan pendidikan yang bersumber ajaran-ajaran Allah, baik terhadap istri-istrinya maupun para sahabat dan segenap umatnya.
Dalam hubungan rumah tangganya dengan Rasulullah, Hafshah pernah diceraikan oleh Rasulullah, tapi karena dia seorang yang ahli puasa, melalui Jibril Allah mengingatkan Rasul untuk rujuk kembali, karena Hafshah adalah seorang ahli puasa dan ahli ibadah yang akan menjadi istri Rasulullah di surga nanti. Puasa telah menyelamatkan Hafshah dari perceraian. Hafshah kembali rujuk dengan Rasulullah dan bahagia bersamanya hingga Rasulullah saw. wafat.
Selain shalihah, ummul mukminin Hafshah binti Umar sangatlah cerdas. Kemampuan membaca, menulis dan menghafalnya melampaui kemampuan kaum lelaki pada masa itu. Hafshah menyimpan semua catatan wahyu Allah kemudian mengumpulkan dan menulisnya. Hafshah mengemban amanah penjagaan Al-Quran, karena Abu Bakar menunjuknya untuk menjaga lembaran-lembaran tulisan Al-Quran setelah berhasil dihimpun oleh Zaid bin Tsabit. Lembaran-lembaran Al-Quran itu tetap berada ditangannya hingga masa pemerintahan Utsman bin Affan ketika ia memutuskan menghimpun Al-Quran dalam satu mushaf.Allahu a’lam bish-showab.(Nad)
