Pilah-pilah Sampah Jadi Cuan, Inovasi DLH Aceh Tamiang Sejahterakan Petugas Kebersihan

Penulis : Zulfitra | Editor : Dimas A Putra | Foto : Zulfitra

Aceh, GPriority.co.id – Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tamiang, Syurya Luthfi, mengatakan jika Dinas yang sedang dipimpinnya telah membuat inovasi atau program sampah yang masih menjadi salah satu persoalan di daerah itu.

Syurya mengaku, program yang telah dibuat pihaknya itu dan yang kini sedang dijalankan tersebut adalah upaya DLH menekan volume sampah di lokasi pembuangan akhir sampah di kabupaten itu.

Inovasi ini pun telah disampaikan ke Pj Bupati Aceh Tamiang, Meurah Budiman, dan langsung mendapatkan atensi.

“Jadi programnya adalah pemilahan sampah antara organik dan non organik. Tujuannya, untuk menekan atau mengurangi jumlah sampah,” kata Kadis LH Kabupaten Aceh Tamiang, Syurya Luthfi, Sabtu, (21/10).

Untuk itu, agar inovasi ini dapat berjalan lancar kedepannya, Syurya menyebut jika pihaknya akan melibatkan langsung masyarakat.

Ia optimistis program ini juga dapat berjalan dan berkembang kedepannya. Sehingga upaya untuk mengurangi volume sampah setiap harinya terwujud demi pemeliharaan kebersihan lingkungan di Bumi Muda Sedia.

“Ini menjadi salah satu langkah pengurangan sampah dan terutama mengurangi beban TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang kapasitasnya sudah mencapai overload,” kata Syurya.

Syurya mengungkapkan, program ini sendiri saat ini sudah mulai berjalan sejak, 17 Oktober 2023 lalu, di dua wilayah Kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang. Yakni wilayah Kecamatan Kota Kualasimpang, dan Karang Baru.Dan saat ini jumlah sampah non organik yang sudah terkumpul dan dipilah, Syurya menyebut sudah sebanyak 1 ton.

“Sementara, untuk kecamatan lainnya saat ini hanya tinggal menunggu proses penjemputan saja,” katanya.

Terpisah, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Limbah Bahan Berbahaya Beracun dan Peningkatan Kapasitas (PSLB3PK), Muhammad Husni, mengaku, jika inovasi atau program yang tengah mereka jalankan tersebut berdampak terhadap dua sisi, yakni lingkungan serta petugas kebersihan.

“Pertama, lingkungan menjadi bersih. Kemudian petugas mendapatkan uang tambahan,” kata Husni.

Menurut Husni, sebelum inovasi terbentuk, petugas kebersihan selama ini hanya membersihkan sampah tanpa memilah. Yang menjadikan sampah tidak bernilai ekonomis. Ia berharap, dengan terbentuknya program ini nantinya mampu mengurangi penumpukan sampah di TPA.

Tak cuma itu, Husni menyebut, pihak DLH siap menampung dan membeli sampah – sampah yang telah dipilah dan dikumpulkan para petugas kebersihan nantinya sesuai harga di pasaran.

“Untuk kemasan air mineral yang bersih, kami siap membelinya dengan harga sekitar Rp 2.500 per kilogram. Bahkan bisa lebih tinggi dari harga itu. Sesuai harga pasar. Dan yang paling mahal, sampah minuman kaleng,” katanya.

Lebih jauh, Husni mengungkapkan, DLH telah menerima hibah langsung dari PT. Pertamina EP Asset 1 Field Rantau beberapa waktu lalu, yakni mesin press sampah.

Ia menyebut, mesin bantuan tersebut bisa mengubah sampah dari satu karung besar menjadi tumpukan kecil berukuran 30cm x 30cm, jadi mengurangi penumpukan.

Husni menjelaskan, program pengelolaan dan pemilahan sampah dengan sistem 3 R merupakan salah satu inisiatif untuk penanganan sampah yang terdiri dari tiga unsur. Yaitu; mengurangi, menggunakan ulang, dan mendaur ulang sampah atau biasa disebut sebagai 3 R.

“Untuk memulai melakukan 3R ini memang dapat dilakukan oleh siapa saja. Program 3R memang hanya istilah sederhana. Namun dari hal yang sederhana ini, dapat memberikan dampak yang positif bagi permasalahan sampah di sekitar dalam mewujudkan lingkungan bersih dan indah dipandang mata,” ujarnya.