Penghasilan Kantin Sekolah Turun Hingga 50 Persen Akibat Makan Bergizi Gratis

Kantin Sekolah Akui Penghasilan Turun Hingga 50 Persen Akibat Makan Bergizi Gratis Kantin Sekolah Akui Penghasilan Turun Hingga 50 Persen Akibat Makan Bergizi Gratis

Jakarta, GPriority.co.id – Menuai pro kontra sejak awal penyalurannya di tanggal 6 Januari 2025, kini makan bergizi gratis diprotes oleh pihak pedagang di kantin sekolah.

Kabarnya, sejak pelaksanaan makan bergizi gratis, banyak pedagang di kantin sekolah mengalami kerugian dan penurunan penghasilan hingga 50 persen.

Dilansir dari berbagai sumber, Ida Rosida, seorang pedagang di kantin SMPN 12 Semarang mengaku penghasilannya menurun 50 persen sejak program makan bergizi gratis dijalankan.

Ida mengakui, sebelum program tersebut berjalan, ia bisa untung hingga Rp600-700 ribu per harinya. Namun kini ia hanya mendapat untung Rp300 ribu per hari.

Ida pun lebih berfokus menjual makanan ringan seperti cireng, batagor, dan sosis, ketimbang makanan berat.

Hal senada diakui oleh Agus Sunandar, seorang pedagang kantin di SDN Kedung Badak 1 Bogor.

Jika biasanya ia mendapat untung Rp800 ribu-Rp1 juta bahkan bisa lebih setiap harinya, kini ia hanya meraup untung Rp400 ribu per hari.

Ke depannya, para pedagang kantin tersebut berharap agar pemerintah dapat lebih mempertimbangkan dan peduli terhadap nasib para pedagang kantin sekolah.

Jika terus mengalami penurunan pendapatan, kemungkinan besar mereka bisa menutup dagangan mereka di kantin sekolah.

Pemerintah Terus Lakukan Evaluasi

Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara (Jubir) Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Adita Irawati, mengakui saat ini pemerintah telah menampung berbagai keluhan dari para pedagang di kantin sekolah tersebut.

Ke depannya, pemerintah akan melibatkan mereka dalam program makan bergizi gratis.

Selain itu Adita juga menekankan jika satu hingga dua bulan ke depan, pemerintah akan terus melakukan evaluasi pada program makan bergizi gratis.

Dalam evaluasi tersebut, keluhan dari para pedagang kantin juga akan terus dibahas untuk memberikan solusi terbaik.

Foto : Ilustrasi/ANTARA