Jakarta, GPriority.co.id – China dilaporkan telah menemukan obat diabetes lewat terapi regeneratif.
Ditemukan oleh peneliti China, kini mereka tengah mengembangkan pengobatan revolusioner bagi penderita diabetes tipe 2, lewat regenerasi sel beta yang menghasilkan insulin di pankreas.
Pengobatan diabetes ini dilakukan dengan melalui pendekatan terapi regeneratif seperti pemrograman ulang sel punca, pengeditan gen yang mirip CRISPR, juga modulasi mRNA.
Dalam uji klinis awal, hasilnya pasien pengidap diabetes memiliki kadar gula darah normal tanpa menggunakan suntikan insulin ataupun obat-obat tambahan lainnya.
Pengobatan ini juga diklaim bukan sekadar pengobatan yang bersifat sementara, namun berpotensi dapat menjadi penyembuhan secara fungsional.
Penemuan ini lantas mengejutkan dunia medis, karena dapat mengancam status quo industri farmasi global dengan nilai lebih dari Rp4,8 kuadriliun. Kini penemuan positif yang ditemukan di laboratorium China memunculkan harapan untuk 422 juta penderita diabetes di seluruh dunia.
Di masa depan, kemungkinan besar mereka tak perlu menggunakan suntikan harian serta menghindarkan dari risiko komplikasi yang kronis.
Laporan melanjutkan, penemuan peneliti China ini juga dipantau oleh Amerika Serikat. Seperti kita ketahui, Amerika Serikat merupakan rumah bagi industri farmasi raksasa yang dapat meraup miliaran dolar lewat perawatan dibates jangka panjang.
Mendengar kabar tersebut, negara yang dipimpin Presiden Donald Trump itu menanggapinya dengan sikap skeptis. Mereka berpendapat, pengobatan yang ditemukan China bukanlah solusi medis, melainkan disrupsi ekonomi yang nantinya dapat merosotkan sistem perawatan yang telah dibangun selama bertahun-tahun lamanya.
Pihak Amerika Serikat juga diduga takut akan kehilangan pendapatan dari langanan insulin, nilai paten, juga pengaruh politik, hingga membuat tanggapan mereka terhadap penemuan China ini seperti tak mendukungnya.
Sayangnya, kesembuhan pasien kerapkali terhalang oleh kepentingan, bukan hanya karena sains yang minim.
Foto : Ilustrasi/Dok. Getty Images
