Jakarta, GPriority.co.id – Indonesia secara resmi dinobatkan sebagai negara dengan jumlah pengangguran terbanyak se-ASEAN.
Meski data BPS (Badan Pusat Statistik) melaporkan tingkat penganggura terbuka (TPT) Indonesia per Februari-Maret 2025 turun sebanyak 4,82 persen (menjadi 4,76 persen), namun jumlah penangguran secara absolut justru mengalami peningkatan, dipicu oleh PHK massal.
Dilansir dari beberapa laporan, menurut Qisha Quarina, Dosen FEB Universitas Gadjah Mada (UGM), penurunan TPT tersebut tidak otomatis menyebabkan pasar tenaga kerja membaik. Pasalnya, angka pengangguran total masih tinggi.
Qisha juga menekankan, data statistik dapat memberi kesan menyesatkan jika tidak pahami dengan baik. Selain itu, isu ketenagakerjaan bukan hanya berkaitan dengan tersedianya lapangan kerja, namun juga berkaitan dengan kelayakan pekerjaan.
Lebih lanjut, per Februari 2025 ini jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang, dengan presentase 3,6 juta diisi oleh pemuda. Presentase pengangguran Indonesia sebesar 4,76 persen juga tercatat sebagai yang tertinggi di Asia Tenggara (ASEAN).
Presentase tersebut lebih besar jika dibandingkan Brunei Darussalam sebesar 4,7 persen dan Filipina sebesar 3,7 persen. Angkanya juga lebih tinggi dibandingkan negara lain seperti Malaysia (3 persen), Vietnam (2,24 persen), serta Thailand (0,89 persen).
Selain itu, laporan dari Trading Economics juga menempatkan Indonesia di urutan pertama dari 11 negara Asia Tenggara dengan tingkat pengangguran terbesar.
Sebelumnya menurut laporan BPS, per Februari 2025 sebanyak 16,16 persen anak muda di Indonesia mendominasi pengangguran. Jumlahnya bahkan di atas rata-rata nasional yang berada di angka 4,76 persen.
Sementara, dari 44,26 juta penduduk Indonesia (rentang usia 15-24 tahun), sebanyak 3,6 juta orang masih menganggur. Jumlah ini hampir setengah dari total pengangguran nasional yang berada di angka 48,77 persen. Sebagian besar merupakan lulusan SMA/sederajat dengan presentase 60,93 persen. Sementara, lulusan sarjana atau diploma sebanyak 8,78 persen.
