Jakarta, GPriority.co.id – Aliansi Perempuan Indonesia (API) menggelar aksi di depan Gedung DPR RI dengan mengenakan pakaian berwarna pink dan hitam, serta membawa sapu lidi sebagai simbol perjuangan, Rabu (3/9).
Humas API, Jumisih, menjelaskan bahwa sapu lidi dipilih karena melambangkan kekuatan jika disatukan.
“Sapu lidi ini kalau dia satu, dia tidak akan mempunyai kekuatan. Tetapi jika sapu lidi itu banyak dan kemudian diikat, dia akan menjadi kekuatan yang bisa menyapu bersih segala macam tindakan-tindakan yang tidak adil seperti terorisme, kekerasan, korupsi yang hari ini itu menjadi musuh yang sangat fundamental di negara kita,” ujar Jumisih.
Jumisih menegaskan bahwa praktik korupsi di Indonesia harus segera dihentikan. “Korupsi itu harus dihentikan dan negara harus mengambil tanggung jawabnya untuk membereskan semua problem-problem rakyat, termasuk juga kekerasan-kekerasan,” ucapnya.

Ia juga menolak keras tindakan kekerasan yang dilakukan maupun dilegitimasi oleh negara terhadap masyarakat sipil yang menyampaikan protes.
“Jadi kita tidak setuju adanya kekerasan yang dilakukan oleh negara dan justru dilegitimasi oleh negara untuk boleh melakukan tindakan-tindakan kekerasan kepada masyarakat sipil yang melakukan protes. Kami tidak setuju. Jadi saat ini sebetulnya ini adalah awal-awal pada saat kemarin situasinya mencekam,” tegas Jumisih.
Sebagai informasi, aksi yang dilakukan oleh ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia (API) ini menyampaikan sejumlah tuntutan.
Pertama, meminta Presiden Prabowo Subianto menghentikan segala bentuk kekerasan negara terhadap warga.
Kedua, mendesak pemerintah untuk tidak lagi memboroskan uang rakyat demi kepentingan pribadi pejabat.
Selain itu, massa juga menuntut pemerintah menghentikan tindakan represif terhadap rakyat, menegaskan bahwa aksi protes bukanlah bentuk makar ataupun terorisme.
Mereka juga meminta agar korban dalam aksi yang terjadi di berbagai daerah dalam beberapa hari terakhir mendapat keadilan.
Pewarta : Fifi Abdurahman
