Pyongyang, GPriority.co.id – Fenomena tak biasa kini terjadi di Pyongyang. Ibu kota Korea Utara itu mulai mengalami kemacetan lalu lintas akibat lonjakan kendaraan pribadi, sesuatu yang selama puluhan tahun nyaris mustahil terjadi di negara tertutup tersebut.
Laporan terbaru dari Reuters menyebut kepadatan kendaraan di jalan-jalan utama Pyongyang kini meningkat signifikan seiring bertambahnya kepemilikan mobil oleh warga sipil.
Selama ini, mobil pribadi di Korea Utara identik dengan kalangan elite pemerintahan, pejabat militer, atau keluarga dekat rezim. Namun dalam beberapa tahun terakhir, aturan kepemilikan kendaraan disebut mulai lebih longgar. Dampaknya, masyarakat kelas menengah baru di Pyongyang mulai berlomba membeli mobil pribadi demi menunjang gaya hidup modern.
Video dan foto yang diverifikasi Reuters memperlihatkan semakin banyak kendaraan dengan pelat nomor kuning, tanda kendaraan milik pribadi, memenuhi jalanan kota.
Bahkan, sejumlah pengunjung asing yang baru kembali dari Pyongyang mengaku terkejut karena untuk pertama kalinya mereka melihat antrean kendaraan dan kesulitan mencari tempat parkir di pusat kota.
Kondisi ini memunculkan tantangan baru bagi pemerintah Korea Utara. Selain kebutuhan lahan parkir tambahan, pemerintah juga mulai menghadapi isu polusi udara serta kebutuhan pengembangan infrastruktur kendaraan listrik. Reuters melaporkan beberapa fasilitas baru seperti area parkir bawah tanah hingga titik pengisian daya mulai diperhatikan di Pyongyang.
Mayoritas kendaraan yang beredar disebut berasal dari China. Hal itu terlihat dari meningkatnya ekspor ban mobil, pelumas, kaca spion, dan suku cadang otomotif dari China ke Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah merek mobil China seperti Changan, Chery, dan Geely juga disebut mulai banyak terlihat di jalanan Pyongyang.
Tren ini menunjukkan perubahan sosial dan ekonomi di Korea Utara. Kepemilikan mobil pribadi kini bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol status baru bagi warga perkotaan. Jumlah mobil pribadi di negara itu diperkirakan telah menembus lebih dari 10 ribu unit dan masih terus bertambah.
Meski angka tersebut masih jauh dibanding negara lain, kemacetan di Pyongyang menjadi tanda bahwa Korea Utara perlahan mengalami transformasi gaya hidup modern yang sebelumnya sulit dibayangkan dunia internasional.
