Partai Kecoa India, Ratusan Ribu Anak Muda Ramai-Ramai Gabung

Partai Kecoa India. Foto: istimewa Partai Kecoa India. Foto: istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Dunia politik India mendadak dihebohkan dengan kemunculan gerakan satir bernama Partai Janta Kecoa yang viral di media sosial dan berhasil menarik ratusan ribu anggota hanya dalam hitungan hari.

Gerakan unik ini dipimpin oleh Abhijeet Dipke, pria berusia 30 tahun yang mengaku tidak menyangka candaan sederhana di internet berubah menjadi fenomena politik besar.

Dipke, lulusan hubungan masyarakat dari Universitas Boston, mengaku hidupnya berubah drastis dalam 72 jam terakhir karena banjir pesan dan respons publik di berbagai platform media sosial.

Nama “Janta” sendiri berasal dari bahasa Hindi yang berarti rakyat. Setiap hari, ribuan orang disebut terus mendaftar secara daring sebagai bentuk solidaritas terhadap gerakan tersebut.

Fenomena ini bermula dari pernyataan kontroversial Ketua Mahkamah Agung India Surya Kant dalam sidang terbuka beberapa waktu lalu.

Dalam pernyataannya, Surya Kant menyebut ada “parasit” yang sedang menyerang sistem yang berlaku. Ia kemudian mengibaratkan sebagian anak muda India seperti kecoa yang kesulitan mendapatkan pekerjaan layak.

Menurut Surya Kant, kelompok muda tersebut akhirnya beralih menjadi pegiat media, aktivis media sosial, hingga aktivis RTI yang dianggap menyerang banyak pihak.

Meski belakangan memberikan klarifikasi bahwa ucapannya ditujukan kepada individu bergelar palsu dan bukan seluruh anak muda India, pernyataan tersebut telanjur memicu gelombang kemarahan publik, terutama dari generasi Z.

Di tengah tingginya pengangguran, inflasi, serta meningkatnya ketegangan sosial dan agama di India, kemunculan Partai Janta Kecoa langsung mendapat simpati luas dari masyarakat.

Gerakan ini juga berkembang menjadi simbol sindiran terhadap pemerintahan nasionalis Hindu di bawah Perdana Menteri Narendra Modi.

Melihat situasi yang memanas di media sosial, Dipke kemudian mengunggah pertanyaan retoris di platform X tentang apa yang akan terjadi jika semua “kecoa” bersatu.

Unggahan itu ternyata menyentuh emosi banyak orang. Dipke lalu membangun situs resmi serta akun media sosial Partai Janta Kecoa yang namanya dibuat sebagai plesetan dari Partai Bharatiya Janata atau BJP.

Dalam waktu kurang dari empat hari, akun Instagram gerakan tersebut langsung menembus lebih dari tiga juta pengikut, sementara jumlah pendaftar anggota resmi disebut telah melampaui 350 ribu orang melalui formulir daring.

Dipke bahkan melontarkan kritik tajam terhadap kondisi sosial-politik India saat ini.

Ia menyebut para penguasa kerap memandang warga negara hanya sebagai kecoa atau parasit. Kepada media Al Jazeera dari Chicago, Dipke mengatakan kecoa biasanya berkembang biak di tempat yang kotor dan busuk.

Menurutnya, kondisi itulah yang merepresentasikan India saat ini.

Menariknya, gerakan satir tersebut juga menarik perhatian sejumlah tokoh politik dan mantan pejabat India.

Beberapa nama yang dilaporkan ikut mendaftar di antaranya anggota parlemen oposisi Mahua Moitra dari Benggala Barat serta mantan anggota parlemen Bihar Kirti Azad.

Selain itu, pensiunan birokrat federal India Ashish Joshi juga menyatakan bergabung setelah melihat gerakan tersebut viral di media sosial.

Menurut Joshi, dalam satu dekade terakhir masyarakat India hidup dalam atmosfer ketakutan dan enggan menyampaikan kritik secara terbuka.

Ia menyebut India kini dipenuhi kebencian sosial sehingga kehadiran Partai Janta Kecoa dianggap sebagai bentuk perlawanan kreatif yang membawa angin segar bagi publik.

Joshi juga menilai analogi kecoa memiliki sisi positif karena hewan tersebut dikenal mampu bertahan hidup dalam kondisi paling sulit sekalipun.

Ia menegaskan bahwa ketika sistem pemerintahan sudah tidak sehat, maka “kecoa” akan muncul dan merayap di atasnya sebagai simbol perlawanan baru masyarakat.