Kagawa, GPriority.co.id – Peneliti di Jepang berhasil mengembangkan inovasi unik dengan mengubah limbah mi udon menjadi kertas biodegradable yang ramah lingkungan.
Terobosan ini dilakukan oleh tim peneliti dari Kagawa University di Prefektur Kagawa, wilayah yang terkenal sebagai pusat produksi Sanuki udon, salah satu kuliner khas Jepang.
Dilansir dari laporan WION, inovasi tersebut muncul sebagai solusi atas tingginya jumlah mi udon yang terbuang setiap hari. Banyak udon yang tidak terjual atau kehilangan kualitas rasa setelah direbus dan didiamkan terlalu lama, sehingga akhirnya menjadi limbah makanan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Profesor Naotaka Tanaka dari Fakultas Pertanian Kagawa University mengembangkan teknologi yang memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah sisa udon menjadi lembaran selulosa menyerupai kertas tradisional Jepang atau washi.
Proses pembuatannya dimulai dengan menghancurkan mi udon bekas menggunakan air hingga menjadi campuran halus. Selanjutnya, enzim ditambahkan untuk menguraikan pati menjadi glukosa.
Setelah itu, bakteri penghasil selulosa dikembangbiakkan di dalam campuran tersebut. Dalam beberapa hari, bakteri membentuk lapisan tipis selulosa yang kemudian dikeringkan secara alami hingga menjadi lembaran kertas.
Menurut Tanaka, satu porsi udon dapat menghasilkan sekitar lima hingga sepuluh lembar kertas ukuran A4. Menariknya, material ini diklaim lebih tahan terhadap air dan sobekan dibandingkan kertas biasa.
Selain itu, produk tersebut dapat terurai secara alami di dalam tanah melalui aktivitas mikroorganisme sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
Saat ini, kertas dari limbah udon telah dimanfaatkan untuk berbagai produk promosi dan karya seni. Tim peneliti juga tengah mengeksplorasi kemungkinan penggunaannya untuk umpan pancing buatan dan berbagai produk lain yang membutuhkan material yang dapat terdegradasi secara alami setelah digunakan.
Lebih dari sekadar inovasi material, proyek ini juga membangun ekosistem ekonomi sirkular lokal. Restoran menyumbangkan udon yang tidak terpakai, fasilitas sosial memproduksi kertas, sementara universitas membeli hasil akhirnya untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut.
Model ini diharapkan dapat menjadi contoh nyata dalam mengurangi limbah makanan sekaligus menciptakan produk bernilai tambah yang berkelanjutan.
