Amerika Serikat, GPriority.co.id – Junkfood merupakan jenis makanan yang digemari oleh masyarakat Indonesia, terlebih kalangan Gen Z. Menurut data GoodStats, sebanyak 49 persen Gen Z tercatat mengonsumsi makanan cepat saji sekitar 1-2 kali dalam seminggu. 12 persen diantaranya bahkan mengonsumsi setiap hari.
Namun, mulai sekarang ada baiknya anda harus menghentikan kebiasaan makan junkfood. Menurut penelitian dari Fakultas Kedokteran UNC (University of North Carolina), mengonsumsi makanan cepat saji berlemak tinggi secara terus-menerus, dapat membahayakan kemampuan otak dalam memproses ingatan.
Selain itu, terlalu sering mengonsumsi junkfood juga dapat berpotensi meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti demensia dan alzheimer, sebagaimana dilansir dari laporan NY Post.
Padahal, otak membutuhkan pasokan nutrisi mulai dari antioksidan dan lemak sehat yang stabil agar dapat berfungsi dengan baik. Oleh karenanya, lebih disarankan untuk mengonsumsi makanan sehat seperti ikan, buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian utuh, hingga kacang-kacangan, yang terbukti dapat mendukung struktur, fungsi, serta daya ingat otak.
Faktanya, mengonsumsi makanan ultra-olahan seperti burger keju, kentang goreng, hingga es krim selama beberapa hari saja, dapat membuat sekelompok sel otak khusus yang disebut interneuron CCK, bekerja secara berlebihan dan dapat mengganggu metabolisme pada otak.
“Kami tahu bahwa pola makan dan metabolisme dapat memengaruhi kesehatan otak, tetapi kami tidak menyangka akan menemukan kelompok sel otak yang spesifik dan rentan, interneuron CCK di hipokampus, yang secara langsung terganggu oleh paparan pola makan tinggi lemak jangka pendek,” kata Juan Song , peneliti utama dan profesor farmakologi.
Juan menambahkan, “Yang paling mengejutkan kami adalah seberapa cepat sel-sel ini mengubah aktivitasnya sebagai respons terhadap berkurangnya ketersediaan glukosa, dan bagaimana perubahan ini saja sudah cukup untuk mengganggu daya ingat.”
Selain itu, obesitas juga penyakit kronis dan progresif, diketahui membahayakan kesehatan otak dengan mengurangi aliran darah, mengecilkan volume otak, dan memicu neuroinflamasi.
