Jakarta, GPriority.co.id – Sebanyak delapan negara akui siap menangkap Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, apabila dirinya kedapatan mengunjungi wilayah mereka.
Langkah tersebut muncul usai terjadi peningkatan tekanan global kepada Israel setelah operasi militernya di Jalur Gaza, dan menewaskan lebih dari 40 ribu warga sipil sejak Oktober 2023 hingga saat ini.
Sebagaimana dilansir dari laporan AFP pada Rabu (12/11), berikut ini 8 negara yang berada pada barisan melawan Israel tersebut antara lain Turki, Slovenia, Lithuania, Norwegia, Swiss, Irlandia, Italia, serta Kanada.
Meski memiliki posisi diplomatik yang beragam, tetapi mempunyai satu kesamaan dalam megencam keras tindakan yang dilakukan Israel.
Sebelumnya, Kejaksaan Istanbul telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap 37 orang yang dituduh terlibat dalam kejahatan genosida di Gaza. Nama Netanyahu masuk dalam daftar tersebut bersama Menteri Luar Negeri (Menlu) Yisrael Katz serta Kepala Staf Umum Israel, Eyal Zamir.
Kini ketiga orang tersebut masuk dalam daftar hitam di Turki. Bukan hanya dilarang masuk wilayah Turki, namun juga tak diizinkan untuk melintas di wilayah udaranya.
Dengan ketegasan ini, Israel semakin tertekan sementara posisi Makhamah Pidana Internasional (ICC) semakin kuat. Sejak November 2024 lalu, lembaga tersebut telah mengeluarkan surat perintah serupa kepada Netanyahu serta mantan Menteri Pertahanan Yoav Galant.
Netanyahu dituduh menjadi otak dari kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan dalam agresi ke Gaza. Surat perintah penangkapan Netanyahu tersebut diterbitkan pada Kamis, 21 November 2024 lalu.
Usai diterbitkannya surat penangkapan tersebut, Netanyahu mengecam keras keputusan tersebut lewat X-nya dan merasa bahwa hal itu dapat berdampak negatif terhadap ICC dan semua pendukungnya.
Sementara itu, dari pihak ICC juga telah mengeluarkan bukti-bukti kejahatan Netanyahu. Selain konflik bersenjatan dan kejahatan kemanusiaan, Netanyahu dan Gallant juga dinilai melakukan tindakan manusiawi dengan membuat kondisi warga Palestina yang kekurangan air, listrik, bahan bakar, serta pasokan medis.
Bahkan dokter pun sampai harus mengamputasi warga Gaza termasuk anak-anak yang terluka karena obat-obatan dan anastesi yang dibatasi. Netanyahu juga diketahui dengan sengaja menyerang secara brutal sejumlah rumah sakit, sekolah, hingga tempat penampungan warga Gaza, Palestina demi mengusir mereka.
