Jakarta, GPrioruty.co.id – Wakil Ketua DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal, tengah viral di media sosial setelah beredar video pernyataannya yang menyebut tidak perlu ahli gizi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pernyataan itu disampaikan dalam Forum Konsolidasi SPPG se-Kabupaten Bandung, pada Minggu (16/11).
Dalam video yang beredar, tampak seorang peserta forum menyampaikan pandangan dan saran soal sulitnya Badan Gizi Nasional (BGN) merekrut ahli gizi untuk ditempatkan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Peserta tersebut mengusulkan agar BGN tidak lagi menggunakan istilah “ahli gizi” bila tenaga yang direkrut berasal dari non-gizi, serta menyarankan posisi itu cukup disebut pengawas produksi, pengawas kualitas, atau tenaga QA/QC.
“Jika memang pada akhirnya tetap ingin merekrut dari non-gizi, tolong tidak menggunakan embel-embel ahli gizi lagi,” ujar peserta itu, sebagaimana video yang beredar.
Belum selesai peserta tersebut berbicara, Cucun memotong dan menilai penjelasannya terlalu panjang, bahkan menyebutnya arogan.
“Kamu itu (berbicara) terlalu panjang. Yang lain kasihan,” kata Cucun menanggapi ketika peserta itu ingin menambahkan solusinya.
“Saya gak suka anak muda arogan seperti ini, mentang-mentang kalian dibutuhkan negara, kalian bicara undang-undang. Pembuat kebijakan itu saya. Saya nanti akan ajak rapat BGN, akan merubah diksi daripada ahli gizi ini adalah satu tenaga yang menangani gizi, tidak perlu ahli gizi. Cocok? Nanti saya akan bicarakan di DPR,” tegasnya.
Pernyataan itu menuai kritik luas dari warganet. Banyak yang menilai Cucun arogan dan merendahkan profesi ahli gizi.
“Dih pak kocak, arogan, sombong, sok paling tau, sok berkuasa,” tulis akun @wira.adikara.
“Yang arogan dan sombong sebenarnya siapa, public speaking yang sopan, baik dan benar,” kata akun @saridianfitria.
“Ahli gizi udah pada murka pak, itu terlalu menyakitkan! Kita lihat nanti pak siapa yang menang! tulis akun @ajengpuss.
Minta Maaf
Setelah videonya viral, Cucun menyampaikan permohonan maaf. Ia mengatakan dinamika pembahasan di ruang forum tersebut tidak bermaksud menyinggung profesi ahli gizi.
“Saya menyampaikan permohonan maaf apabila dinamika pembahasan di dalam ruangan terkait tuntutan aspirasi sempat menjadi konsumsi publik dan dianggap menyinggung profesi ahli gizi,” ucap Cucuk dikutip dari instagram @cucun_centre, Selasa (18/11).
Menurutnya, penjelasan itu untuk meluruskan bahwa jika nomenklatur profesi diubah, ada kekhawatiran kualitas makanan bergizi termasuk aspek pengawasannya tidak terjamin.
“Karena itu, usulan perubahan dari ‘ahli gizi’ menjadi ‘Quality Control’ atau ‘Pengawas Makanan Bergizi’ masih sebatas wacana dan belum tentu diberlakukan,” tuturnya.
Politisi PKB itu menegaskan pernyataannya muncul sebagai respon atas usulan agar embel-embel ‘ahli gizi’ dihilangkan dalam program MBG.
Ia khawatir hal tersebut justru membuka peluang bagi tenaga non-ahli masuk ke ruang profesi tersebut dan menggeser peran tenaga gizi yang kompetensinya terukur.
“Secara prinsip, apabila nomenklatur tersebut dihilangkan, hal ini justru membuka peluang bagi pihak yang bukan ahli gizi untuk masuk ke ruang profesi tersebut. Kondisi ini berpotensi menggeser peran ahli gizi maupun tim pengawas gizi yang selama ini memiliki kompetensi dan tanggung jawab yang terukur,” jelas Cucun.
“Oleh karena itu, penegasan nomenklatur profesi menjadi penting untuk menjaga kepastian peran serta kualitas layanan gizi dan pangan bergizi. Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah memberikan masukan dan perhatian. Setiap aspirasi yang disampaikan sangat berarti bagi penguatan program Presiden RI @prabowo yang begitu luar biasa dalam mempersiapkan masa depan dan kualitas generasi penerus bangsa,” tambahnya.
