Jakarta, GPriority.co.id – Aksi unjuk rasa sering kali diwarnai dengan coretan vandalisme yang menyuarakan kritik terhadap institusi kepolisian. Di berbagai sudut kota, coretan “ACAB” dan “1312” kian masif terlihat, menjadi simbol perlawanan dan kekecewaan publik terhadap dugaan tindakan represif aparat. Tulisan-tulisan ini bukan sekadar vandalisme biasa, melainkan sebuah pesan kuat yang merefleksikan ketidakpuasan masyarakat.
Secara harfiah, ACAB adalah singkatan dari kalimat dalam Bahasa Inggris, “All Cops Are Bastards,” yang berarti “Semua Polisi adalah Bajingan.” Istilah ini merupakan kritik terhadap institusi kepolisian secara keseluruhan, bukan ditujukan kepada individu polisi tertentu.
Sementara itu, 1312 adalah kode numerik yang mewakili huruf-huruf dalam ACAB. Angka ini disusun berdasarkan urutan alfabet (1=A, 3=C, 1=A, dan 2=B), sehingga 1312 memiliki arti yang sama dengan ACAB. Penggunaan kode ini sering kali menjadi cara untuk menyebarkan pesan secara lebih terselubung.
Asal-usul frasa ACAB tidak diketahui secara pasti. Namun, dari berbagai sumber, frasa ini diduga kuat muncul di Inggris pada tahun 1970-an.
Menurut National Geographic Indonesia, frasa “All Coppers Are Bastards” pertama kali digunakan oleh para buruh yang melakukan aksi mogok pada tahun 1940-an. Sebuah rekaman video tahun 1958 juga menunjukkan sekelompok anak muda meneriakkan frasa tersebut di jalanan.
Namun, ACAB benar-benar mendapatkan makna modernnya pada tahun 1970, ketika harian Daily Mirror menurunkan tajuk utama dengan frasa tersebut. Berita itu mengisahkan seorang remaja yang ditangkap karena menyulam frasa ACAB di jaketnya, setelah terinspirasi oleh anggota geng motor yang ia lihat di jalan. Sejak saat itu, ACAB menjadi simbol perlawanan global yang banyak diadopsi oleh subkultur punk, sepak bola, dan aktivis.
Di Indonesia, frasa ini kembali mengemuka seiring dengan serangkaian aksi kekerasan dan dugaan tindakan represif aparat, terutama dalam menghadapi demonstrasi. Vandalisme yang bertuliskan ACAB dan 1312 menjadi cara bagi masyarakat untuk menyuarakan kekecewaan mereka. Coretan ini menjadi simbol perlawanan yang menggambarkan betapa mendalamnya rasa tidak percaya publik terhadap institusi kepolisian.
Penggunaan frasa ini menandakan sebuah pesan kuat: tindakan kekerasan dan represif harus dihentikan, dan reformasi aparat harus ditegakkan. Dengan demikian, ACAB dan 1312 bukan lagi sekadar coretan, tetapi sebuah pesan sosial yang menuntut keadilan dan akuntabilitas dari para penegak hukum.
Pewarta: Rizqi Juned
Editor: Dimas A Putra
