Aceh Tamiang Lumpuh, Warga Butuh Logistik dan Akses Komunikasi

Kondisi Aceh Tamiang pasca banjir bandang. Foto: serambinews.com Kondisi Aceh Tamiang pasca banjir bandang. Foto: serambinews.com

Jakarta, GPriority.co.id – Kondisi Aceh Tamiang pascabanjir dilaporkan semakin parah. Salah satu warga menyebut situasi di wilayah tersebut sudah tidak terkendali, dengan banyak rumah hanyut serta jenazah ditemukan di berbagai lokasi.

“Kondisi di Aceh Tamiang pasca banjir sudah terlalu parah dan memang sudah tidak bisa terbendung. Banyak rumah yang hanyut, banyak mayat juga di jalanan. Sudah seperti tsunami tentunya,” ungkap Aidil Isfa Azhari (26) warga Aceh Tamiang saat dihubungi GPriority Selasa (2/12).

Aidil mengaku, akses menuju berbagai wilayah terputus total. Tidak hanya transportasi, kata dia, layanan dasar seperti listrik, air bersih, dan pasokan bahan pangan juga tidak tersedia.

“Akses tidak bisa kemana-mana, terputus total. Dan juga sinyal listrik, air bersih, bahan pangan semuanya tidak ada. Itu kondisi saat ini yang terjadi pasca banjir,” ujarnya.

Ia menyebut kebutuhan mendesak saat ini adalah logistik serta akses komunikasi. Aidil mengaku perlu mendaki bukit untuk mendapatkan sinyal.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah logistik dan juga kemungkinan paling bisa sinyal yang kami harus ke bukit lagi untuk sinyal perbukitan-perbukitan yang mudah mendapatkan sinyal. Yang paling penting logistik,” tambahnya.

Disamping itu, situasi di lapangan juga diperparah dengan maraknya penjarahan. Hal ini dikarenakan masyarakat butuh makanan yang memadai pasca banjir bandang yang terjadi di Aceh Tamiang.

“Penjarahan di mana-mana, seluruh toko minimarket, toko-toko grosir itu sudah habis dibobol. Karena manusia semua kelaparan. Air bersih tidak ada, makanan juga tidak ada,” tuturnya.

Meski bantuan mulai masuk ke Aceh Tamiang sejak hari ini, Aidil menyebut distribusi masih belum optimal.

“Perlahan-lahan mulai dari hari ini, bantuan sudah bisa masuk ke Aceh Tamiang dan juga ada disebar-sebarin dengan pesawat, beberapa bantuan, tapi masih belum kondusif suasananya karena masih beberapa posko belum terbentuk,” katanya.

Lebih lanjut, Aidil berharap pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan bencana mengingat intensitas hujan tinggi yang rutin terjadi setiap akhir tahun.

“Harapan untuk pemerintah ke depan untuk bisa melakukan simulasi dan menanggulangi bencana lebih dalam lagi karena memang setiap tahunnya di Aceh Tamiang itu selalu hujan yang mungkin bisa berminggu-minggu… jadi untuk pemerintah Aceh Tamiang bisa lebih tanggap lagi untuk mengantisipasi ini ke depannya,” ucapnya.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melakukan pembukaan jalur yang mengubungkan Kota Medan di Sumatra Utara menuju Aceh Tamiang.

Sejumlah kendaraan roda empat mulai dapat melewati jalur tersebut dengan kecepatan terbatas. Targetnya, besok pagi atau Rabu (3/12), jalur tersebut sudah dapat dilalui secara 100 persen. Pekerjaan hari ini tinggal menyingkirkan beberapa material yang masih menumpuk di pinggir jalan.

Adapun bantuan ke wilayah tersebut dilakukan melalui jalur udara, Deputi 4 BNPB telah memerintahkan helikopter untuk mengirimkan dukungan dengan metode air drop di beberapa titik seperti lapangan Dekat Babo dan Perupuk, Kecamatan Bandar Pusaka.

Adapun jenis dan kuantitas barang yang dikirim dalam tahap ini meliputi makanan siap saji 100 pack, hygiene kit 100 buah, paket sembako 50 pack, selimut 100 lembar, matras 100 lembar, alat kebersihan 25 buah.