Akses Internet di Iran Lumpuh Total Lebih Dari 12 Jam

Akses internet di Iran offline selama 12 jam/Foto : The Verge Akses internet di Iran offline selama 12 jam/Foto : The Verge

Iran, GPriority.co.id – Iran masih terperosok dalam kegelapan digital usai pihak berwenang memberlakukan pemadaman akses internet pada Jumat (9/1).

Pemadaman akses internet tersebut datang di tengah protes yang terus meningkat. Menurut kelompok pemantau internet NetBlocks, Iran, pada pukul 09.00 waktu setempat, internet telah offline selama lebih dari 12 jam, dengan konektivitas nasional stagnan di sekitar 1% dari tingkat normal.

Pemadaman tersebut terjadi ketika para demonstran turun ke jalan di seluruh negeri, meskipun terjadi penindakan yang semakin intensif oleh pasukan keamanan.

NetBlocks dalam sebuah unggahan di X mengungkapkan bahwa Iran telah mengalami gangguan internet selama 12 jam, dengan konektivitas nasional turun hingga sekitar satu persen dari tingkat normal.

“Iran kini telah mengalami gangguan internet selama 12 jam dengan konektivitas nasional yang stagnan di sekitar 1% dari tingkat normal, setelah pihak berwenang memberlakukan pemadaman internet nasional dalam upaya untuk menekan protes besar-besaran sambil menutupi laporan tentang kebrutalan rezim,” kata kelompok tersebut.

Sementara itu sebagaimana dilansir dari Reuters, kerusuhan di Iran dimulai pada 28 Desember dengan pemogokan yang terjadi di pasar bersejarah Teheran, yang dipicu oleh jatuhnya nilai rial ke titik terendah sepanjang sejarah.

Apa yang dimulai sebagai protes ekonomi telah berubah menjadi gerakan nasional, menyebar jauh melampaui ibu kota. Skala protes tersebut, menurut AFP, telah membuat otoritas Iran di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gelisah, dan sudah bergulat dengan krisis ekonomi yang mendalam akibat sanksi selama bertahun-tahun. Terlebih lagi, negara tersebut juga masih terguncang akibat perang Juni lalu dengan Israel.

Menurut kelompok hak asasi manusia, respons negara semakin brutal. Kelompok yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHR), mengatakan setidaknya 45 demonstran, termasuk delapan anak di bawah umur, telah tewas sejak demonstrasi dimulai. Mereka mengatakan bahwa tiga belas kematian tercatat pada hari Rabu saja, menggambarkan 7 Januari sebagai hari paling berdarah sejauh ini. Ratusan lainnya terluka dan lebih dari 2.000 orang ditangkap, kata kelompok itu.

“Bukti menunjukkan bahwa cakupan penindakan semakin brutal dan meluas setiap hari,” kata direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam.

Sementara itu, para pejabat Iran mengakui jumlah korban tewas jauh lebih sedikit. Laporan media pemerintah menyebutkan setidaknya 21 orang tewas, termasuk anggota pasukan keamanan. Pada hari Rabu, polisi mengatakan seorang petugas tewas di sebelah barat Teheran saat mencoba mengendalikan kerusuhan.

Disisi lain, Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan Teheran agar tidak melakukan pertumpahan darah lebih lanjut, dengan mengatakan Washington akan “menghantam mereka dengan sangat keras” jika “mulai membunuh orang”.