Aroma Mistis Bangunan Toko Merah


Jika berkunjung ke kawasan wisata Kota Tua, anda akan melihat sebuah bangunan dengan warna mencolok di antara bangunan-bangunan tua yang mengapitnya. Bangunan tersebut dikenal dengan nama Toko merah. Toko Merah memiliki sejarah yang cukup panjang hingga cerita mistis di dalamnya.

Toko Merah merupakan rumah tinggal yang dibangun oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff pada 1730 saat masih menjabat opperkopman VOC yang kemudian menjadi Gubernur Jenderal pada 1743-1750. Nama Toko Merah sendiri diberikan setelah bangunan ini dibeli oleh pedagang Tionghoa, Oey Liauw Kong pada abad ke-19.

Keberadaan Toko Merah menggambarkan dinamika bisnis di Kawasan Batavia. Letaknya memang strategis. Dekat dengan pusat pemerintahan, di tepi Kali Besar yang merupakan urat nadi lalu lintas air. Pada zamannya, Kali Besar merupakan wilayah hunian elit di Batavia, tempat tinggal orang-orang kaya dan para pejabat VOC. 

Toko Merah adalah bangunan kembar, dua rumah di bawah satu atap dengan perpaduan arsitektur Klasik Eropa dan gaya Tiongkok pada ornamennya. Sesuai dengan namanya, Toko Merah memiliki dinding yang hampir semuanya berwarna merah. Tangganya unik bergaya Barok, satu-satunya tangga jenis tersebut yang ada di Jakarta. Tembok depan tak diplester, bata merah ditampilkan, diperkuat dengan cat warna merah hati, yang juga merupakan warna dominan interior unsur Tiongkok di bangunan ini. 

Di balik keantikan Toko Merah, ternyata bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 2.455 meter persegi ini menyimpan banyak cerita. Di tempat ini sempat terjadi pembantaian etnis Tionghoa di Batavia. Sungai di depan gedung menjadi tempat pembuangan puluhan ribu mayat hingga airnya pun berubah menjadi merah. Tak sampai disitu, Toko Merah juga kerap dijadikan tempat penyiksaan para gadis.

Karena menjadi saksi biksu pembantaian ribuan etnis Tionghoa, Toko Merah dikenal angker oleh masyarakat sekitar. Bahkan sering kali warga mendengar berbagai suara aneh saat malam tiba. 

Toko Merah di bawah pemerintah beralih fungsi pada 2012. Bukan lagi sebagai destinasi wisata. Dijadikan sebagai tempat konferensi, pameran, ataupun rapat para pejabat pemerintah. Meski tak lagi dikunjungi oleh wisatawan, bangunan ini merupakan bukti nyata kepedulian terhadap pelestarian budaya dan sejarah yang pernah terjadi di tanah air Indonesia. (VIA)

Related posts