Iran, GPriority.co.id – Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan prinsip untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia yang selama beberapa bulan terakhir terganggu akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Informasi tersebut disampaikan sejumlah pejabat senior AS dan dikonfirmasi oleh beberapa media internasional pada Minggu (24/5).
Kesepakatan awal itu disebut mencakup penghentian sementara ketegangan militer, pembukaan akses kapal dagang dan tanker minyak, serta pembahasan lanjutan terkait program nuklir Iran.
Menurut laporan Reuters yang mengutip Axios, proposal tersebut juga memuat perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan Washington dan Teheran “telah menyetujui kerangka dasar” untuk memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut itu diketahui menjadi penghubung utama sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Media Semafor melaporkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi bagian penting dalam negosiasi yang lebih luas antara kedua negara.
Presiden AS Donald Trump juga disebut telah memberi sinyal positif terhadap proses diplomatik tersebut, meski menegaskan bahwa pembicaraan masih berlangsung dan belum final.
Sementara itu, laporan Al Jazeera menyebut Iran siap mengembalikan aktivitas pelayaran ke level normal dalam waktu 30 hari apabila kesepakatan resmi tercapai.
Namun, pemerintah Iran masih menuntut pencabutan sejumlah sanksi ekonomi yang diberlakukan AS.
Dalam perkembangan lain, isu uranium yang diperkaya tinggi juga menjadi fokus utama negosiasi. Sejumlah laporan menyebut Iran bersedia membahas pembuangan stok uranium sebagai bagian dari kesepakatan damai yang lebih luas.
Namun hingga kini belum ada rincian final mengenai mekanisme pengawasan internasional terhadap program tersebut.
Kabar mengenai potensi pembukaan Selat Hormuz langsung memengaruhi pasar energi global.
Wall Street Journal melaporkan harga minyak mentah dunia turun lebih dari 5 persen setelah muncul sinyal deeskalasi konflik antara Washington dan Teheran. Investor menilai stabilitas jalur distribusi energi akan membantu menekan risiko inflasi global.
