Asal Muasal Batik Wakaroros Kutai Timur

Penulis : Haris | Editor : Lina F | Foto : Diskominfo Staper

Jakarta,GPriority.co.id-Wakaroros merupakan salah satu batik khas Kutai Timur.

Berkat kerja keras Pemkab Kutai Timur dalam hal ini Dinas Pariwisata, Wakaroros menjadi salah satu batik yang dikenal di seluruh dunia, namun tahukah Anda asal muasalnya.

Dikutip dari berbagai sumber, tahun 2008, industri batik pertama kali hadir di Kutai Timur.

Kesenian membatik diadopsi ke Kalimantan dengan menerapkan motif ukiran kayu khas Dayak ke dalam motif batik.

Kecamatan Rantau Pulung, mulanya sebagai sentra batik Kutai Timur yang ditinggali masyarakat Suku Dayak Basap, sehingga teknik membatik dipadukan dengan motif ukir Akar Oros (dikenal wakaroros) khas Dayak Basap.

Perpaduan ini menjadi asal mula terciptanya Batik Wakaroros yang kini banyak dikenal sebagai batik khas milik Kabupaten Kutai Timur.

Kepala Adat Suku Dayak Basap, dan Tokoh Adat Kutai kala itu, menyarankan motif ukiran kayu Dayak Basap yaitu motif Akar Oros, dan tanaman Paku yang menjadi identitas Kutim.

“Wakaroros tidak serta-merta dibuat begitu saja. Tetapi kami meminta nasihat dari tetua adat di Kutim kira-kira apa yang menjadi khas dari sini,” ujarnya.

Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan Batik Kutai Timur tidak selalu berjalan mulus.

Kendala yang dihadapi adalah kurangnya tenaga kerja terampil, sementara tingginya permintaan pasar tidak sebanding dengan kemampuan produsen.

Akhirnya, pada tahun 2011, Corporate Social Responsibility dari PT Kaltim Prima Coal merespon potensi dari industri batik lokal dan mengadakan pelatihan membatik.

Pelatihan diadakan atas kerjasama CSR PT KPC dengan Politeknik Seni Yogyakarta (Poliseni) di Kecamatan Rantau Pulung dan Sangatta Utara.

Tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan jumlah pembatik yang mempunyai kemampuan menghasilkan produksi yang baik dan memunculkan minat pengrajin baru sehingga jumlah produksi dapat ditingkatkan.

Berdasarkan pengalaman pelatihan, kualitas pembatik lokal semakin bagus dan inovasi mulai dilakukan dengan membuat pewarna alam yang berasal dari limbah kayu ulin sebagai warna khas batik Kutim.

Dari pelatihan inilah, lahir generasi pengrajin batik yang aktif menghasilkan karya-karya indah batik lokal, yakni Masniar (63 tahun) dengan batik telapak tangannya dan Juwita dengan batik kelubutnya.

Masing-masing pembatik memiliki ciri khas dan memasarkan batiknya dengan cara yang berbeda.

Bagi Juwita, membuat dan memasarkan batik saja tidak cukup. Baginya, generasi penerus juga harus memiliki minat dan bakat agar Batik Kutai Timur bisa lestari.

Oleh karenanya, Juwita memperkenalkan Wakaroros kepada anak-anak dan masyarakat umum melalui Sanggar Batik yang didirikan di Desa Swarga Bara pada tahun 2016.

Menurutnya, Kutai Timur memiliki potensi besar dari batik selayaknya daerah-daerah lain yang ada di Indonesia.

“Kutai Timur membutuhkan identitas selayaknya Kota Samarinda yang sudah berhasil dengan Sarung Samarinda. Nah, kita dengan Batik Wakaroros,” ujarnya.

Tahun 2022 menjadi masa kejayaan Batik Wakaroros, saat Desainer Kondang, Lia Afif memperkenalkan batik ini di ajang nasional Indonesia Fashion Week.

Baju-baju muslim yang dipamerkan Lia Afif mengangkat tema Magnificent Borneo bertajuk Cyclona Ulina dengan motif Wakaroros menghias indah.