Washington, Gpriority.co.id – Senator AS Lindsey Graham meninggal dunia akibat serangan jantung pada Sabtu, 11 Juli 2026 waktu Amerika Serikat, atau Minggu, 12 Juli 2026 waktu Indonesia, di kediamannya di Washington. Ia meninggal di usia 71 tahun, setelah lebih dari dua dekade menjadi salah satu politisi paling berpengaruh di Senat Amerika Serikat.
Lindsey Olin Graham adalah politikus dan pengacara AS yang mewakili Carolina Selatan di Senat sejak 2003 hingga kematiannya. Ia dikenal sebagai anggota Partai Republik yang sangat kuat di bidang kebijakan luar negeri, militer, dan keamanan nasional, serta sebagai salah satu sekutu dekat Presiden Donald Trump.
Menurut NBC News, Graham dilaporkan meninggal karena serangan jantung dan ditemukan tidak bernyawa di kediamannya di Washington. Sumber lain menyebutkan ia meninggal setelah “sakit mendadak” pada malam 11 Juli (waktu AS), namun detail penyakit spesifik tidak diungkapkan media.
Kematian Graham mengguncang politik AS karena posisinya sebagai senator senior Partai Republik yang sangat aktif dalam kebijakan luar negeri dan dukungan militer. Ia dikenal sebagai salah satu pendukung paling vokal kebijakan luar negeri AS yang tegas, konsisten mendorong tekanan terhadap Rusia, memberikan dukungan kuat kepada Ukraina dan Israel, serta disebut memainkan peran penting dalam membujuk Presiden Trump melancarkan serangan terhadap Iran.
Di Rusia, Graham dipandang sebagai tokoh Amerika yang paling menentang Kremlin. Pada Februari 2024, ia dimasukkan ke dalam daftar “tersier” Rusia dan ditetapkan sebagai buronan oleh otoritas setempat. Ia juga salah satu dari sedikit senator Republik yang memiliki pengaruh besar terhadap pandangan Trump dan mempertahankan jalur komunikasi langsung dengan presiden Trump.
Graham dikenal sebagai salah satu pendukung paling kuat dan vokal Israel di Kongres AS. Ia secara rutin menyatakan Israel adalah “best ally” AS dan berjanji “akan bersama Israel sampai hari kematian kita” (until our dying day). Ia sering menolak wacana pengurangan bantuan AS ke Israel dan mendorong peningkatan dukungan, termasuk kerja sama pengembangan senjata yang disebutnya sebagai “Manhattan Project abad ke-21”.
Kematian Graham akan membuka dinamika baru dalam komposisi dan kebijakan di Senat, terutama dalam isu-isu seperti hubungan dengan Iran, dukungan militer terhadap Israel dan Ukraina, serta kebijakan luar negeri AS secara umum. Ia meninggalkan rekam jejak kuat dalam kebijakan luar negeri dan dukungan militer AS selama hampir 23 tahun masa jabatannya di Senat.
Foto : Istimewa
