Bahaya Wolff’s Law: Ketika Tulang Melemah Akibat Jarang Bergerak

Wolff’s Law merupakan kondisi saat tulang yang terlalu jarang digunakan dapat kehilangan massa dan menjadi lebih lemah/Foto : Ilustrasi Dok. Bigstock Wolff’s Law merupakan kondisi saat tulang yang terlalu jarang digunakan dapat kehilangan massa dan menjadi lebih lemah/Foto : Ilustrasi Dok. Bigstock

Jakarta, GPriority.co.id – Tulang bukan jaringan mati yang hanya berfungsi menopang tubuh. Tulang terus mengalami perubahan dan dapat beradaptasi terhadap beban mekanis yang diterimanya.

Prinsip tersebut dikenal sebagai Wolff’s Law, yang menjelaskan bahwa struktur dan kekuatan tulang dapat menyesuaikan diri terhadap tekanan mekanis secara berulang.

Penjelasan mengenai prinsip tersebut disampaikan dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dr. Adam Moeljono, Sp.OT, Subsp.OTB(K) melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @dr.adamoeljono.

“Tulang itu bukan benda mati. Tulang bisa ‘belajar’ dari beban yang kita berikan,” tulis dr. Adam dalam unggahannya.

Menurutnya, tulang yang terlalu jarang digunakan dapat kehilangan massa dan menjadi lebih lemah. Sebaliknya, pemberian beban yang cukup dan teratur dapat membantu tulang mempertahankan atau meningkatkan kekuatannya. Namun, beban yang berlebihan juga dapat menyebabkan kerusakan.

Secara ilmiah, kemampuan tulang merespons beban tersebut berkaitan erat dengan osteocyte, yaitu sel tulang yang berperan sebagai sensor mekanis. Osteocyte mendeteksi perubahan tekanan atau gaya pada tulang dan kemudian mengatur aktivitas sel lain dalam proses pembentukan serta perombakan tulang.

Dalam proses tersebut, osteoblast berperan membentuk tulang, sedangkan osteoclast berperan melakukan resorpsi atau pembongkaran jaringan tulang. Keseimbangan kedua proses tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan kekuatan tulang.

Dr. Adam juga menjelaskan bahwa hubungan tersebut tidak berdiri sendiri. Tulang, otot, dan sistem saraf saling berhubungan ketika tubuh bergerak. Saat seseorang berdiri, berjalan, berlari, atau melakukan latihan beban, rangsangan mekanis diterima tulang dan memicu respons biologis yang membantu proses adaptasi.

“Spine yang sehat bukan spine yang tidak pernah dibebani. Spine yang sehat adalah spine yang mendapat beban yang cukup, teratur, dan bertahap,” tulisnya.

Temuan ilmiah mendukung gagasan bahwa berkurangnya aktivitas atau beban mekanis dapat berkaitan dengan kehilangan massa tulang, sementara aktivitas fisik memberikan rangsangan yang dibutuhkan untuk mempertahankan kesehatan tulang. Namun, respons tulang terhadap beban dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk jenis, intensitas, frekuensi, dan durasi beban.

Karena itu, pesan yang disampaikan dr. Adam bukan sekadar menganjurkan tubuh untuk terus diberi beban. Prinsipnya adalah memberikan beban yang sesuai kemampuan dan dilakukan secara bertahap.

“Terlalu sedikit bergerak membuat tulang menjadi lebih lemah. Beban yang tepat membuat tulang menjadi lebih kuat. Beban yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan. Gunakan, tetapi jangan berlebihan,” pesan dr. Adam di akhir unggahannya.