Menggali Keunggulan Prosedur BESS Untuk Operasi Tulang Belakang

Dr.dr. Wawan Mulyawan Sp.BS, Subspes. N-TB saat diwawancari tim GPriority terkait keunggulan prosedur BESS untuk tulang belakang/Foto : GPriority (Juwita Sari) Dr.dr. Wawan Mulyawan Sp.BS, Subspes. N-TB saat diwawancari tim GPriority terkait keunggulan prosedur BESS untuk tulang belakang/Foto : GPriority (Juwita Sari)

Jakarta, GPriority.co.id – Prosedur BESS (Biportal Endoscopic Spine Surgery) dilakukan untuk membedah tulang belakang menggunakan alat endoskopi, dengan teknik endoskopi biportal.

Selain untuk tulang belakang, prosedur BESS juga dilakukan untuk saraf-saraf di tulang belakang, terutama pada kasus saraf kejepit. Untuk mendalami prosedur ini, tim GPriority melakukan wawancara langsung bersama Dr.dr. Wawan Mulyawan Sp.BS, Subspes. N-TB di RS Jakarta, pada Rabu (24/9). Berikut ini pembahasannya.

Bagaimana prosedur BESS dilakukan?
Dr. Wawan menyebut, prosedur BESS menggunakan teknik minimal invasif.

“Jadi kalau operasi yang konvensional itu buka lukanya 5-10 cm. Pada operasi dengan endoskopi, kita cukup membuat luka 1/2 cm saja lalu nanti kita akan masukkan kamera ke dalam, sehingga nanti kamera itu bisa melihat di dalam daerah dekat tulang belakang itu sampai kita temukan di mana titik dari saraf yang terjepitnya,” ungkap Dr. Wawan.

Setelah ditemukan titiknya, baru akan dimasukkan alat khusus untuk melonggarkan saraf yang terjepit.

Apa keunggulan prosedur BESS?
“Jadi dengan dia operasinya kecil, otomatis lukanya kecil. Kerusakannya juga menjadi minimal. Sehingga keunggulannya adalah pasien bisa lebih cepat pulih, bisa lebih cepat pulang dan beraktifitas. Atau kalau memang pasien bekerja, bisa lebih cepat masuk kantor lagi,” jelas Dr. Wawan.

Sementara bagi kaum perempuan, dengan luka yang kecil tidak akan berdampak pada penampilan. Dr. Wawan menyebut, dalam kurun waktu 2-3 bulan, lukanya bahkan hampir tidak terlihat.

Sejak kapan prosedur BESS digunakan dalam dunia medis?
Sebenarnya, teknik endoskopi sudah ada lebih dari 20 tahun. Namun saat ini terus berevolusi mulai dari teknik sederhana menjadi teknik PLD pada awal tahun 2000 hingga 2010-an.

“Menjelang tahun 2020 itu dikembangkan teknik di portal ini. Jadi kalau sekarang tahun 2025, saya kira baru 5-6 tahun yang lalu berkembangnya. Kalau di Indonesia kita kembangkan itu tahun 2021,” tuturnya.

Meski awalnya hanya dokter tertentu saja yang melakukannya, namun seiring berjalannya waktu dan melihat perkembangan operasi teknik BESS, akhirnya semakin banyak dokter bedah saraf yang mempelajari prosedur ini.

“Beberapa teman juga membuat workshop-workshop, bahkan kita panggil juga guru kita yang dari luar negeri untuk mengajari teman-teman dokter. Jadi sekarang sudah mulai bertambah lagi teman-teman yang menangani pasien dengan teknik operasi BESS ini,” terangnya.

Dr. Wawan menambahkan, “Memang ilmu itu harus terus berkembang, teknologi juga berkembang, dan dampaknya pasien juga bisa lebih banyak dapat benefitnya.”

Selain prosedur BESS, apakah ada tindakan lainnya?
Untuk melakukan tindakan prosedur BESS, dokter terlebih dahulu akan memastikan tingkat penyakit yang dialami pasien. Sebagai contoh pada pasien saraf kejepit.

“Tidak semua saraf kejepit perlu operasi. BESS itu tetap dilakukan operasi walaupun kecil dan hanya buka luka setengah cm. Pernah ada pasien datang dengan sakit pinggang, kita lihat ternyata bukan saraf kejepit dan hanya otot kaku saja. Jadi cukup diberi obat pelemas otot dan fisioterapi,” ujarnya.

Selain itu bagi pasien dengan saraf kejepit ringan, bisa diobati dengan tindakan laser. Begitupun bagi pasien yang kesehatannya kurang bagus ataupun sudah lanjut usia, maka akan dilakukan tindakan pain management.

“Dengan suntik saraf tertentu, nyerinya bisa kita hilangkan. Mungkin memang tidak seumur hidup. Tapi lumayan misalnya 4-5 tahun baru disuntik lagi, enggak perlu minum obat,” pungkas Dr. Wawan.