Jakarta, GPriority.co.id – Dr. Tirta, seorang dokter yang terkenal karena gaya nyelenehnya, belum lama ini mengungkapkan jika anak muda Indonesia banyak yang tak sadar jika mereka terkena sakit mental.
Menurut hasil penelitan dari American Pyschological Association (APA), ada sekitar 91 persen anak muda dari kalangan Gen Z yang mengaku pernah alami satu gejala fisik atau emosional karena stres.
Misalnya saja seperti depresi atau sedih, juga hilang minat dan motivasi serta energi. Bahkan jika dibandingan dengan millenial, anak muda Gen Z dianggap sebagai generasi yang lebih rentan terkena masalah mental, berdasarkan studi dari University College London.
Menurut Dr. Tirta, berikut ini 5 ciri anak muda kena sakit mental.
1. Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai
Dr. Tirta menyebut, salah satu tandanya yaitu anak muda kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu mereka sukai. Misalnya saja seperti membuat konten, bermain game, menggambar, atau bahkan menulis. Mereka merasa hal-hal tersebut justru seperti beban.
2. Susah tidur atau tidur terus namun merasa tetap lelah
Ciri kedua yaitu anak muda sering merasa gelisah di malam hari atau tetap merasa lelah meski sudah tidur. Gejala ini menjadi tanda dari depresi ringan. Selain itu, kondisi emosional pikiran yang kacau, membuat otak akan tetap aktif saat tubuh sudah seharusnya beristirahat.
3. Overthinking sampai badan ikut sakit
Dr. Tirta mengungkapkan, saat ini banyak anak muda yang datang ke klinik dan mengeluh sesak, mual, atau jantung berdebar. Padahal hasil pemeriksaan medisnya normal. Hal ini disebabkan karena adanya tekanan psikologis.
4. Emosi yang tidak stabil
Emosi yang kerap kali naik turun, menjadi pertanda anak muda memiliki gangguan kecemasan (anxiety) atau depresi. Bukan sekadar “baper” atau “drama”, hal ini merupakan bentuk respon tubuh dan otak terhadap tekanan yang terjadi terus-menerus.
5. Menarik diri dari orang lain dan lingkungan
Menarik diri dari orang lain atau lingkungan bukan hanya pertanda seseorang berkepribadian introvert. Bisa jadi, ini merupakan pertanda dari lelahnya emosional. Menarik diri menjadi cara untuk melindungi diri, namun justru dapat memperburuk kondisi karena hilangnnya support system.
Foto : Dok. Humas FEB UGM
