Bayi Tertawa Saat Tidur, Bahayakah?

Melihat Si Kecil tertidur nyenyak memang memberikan kebahagiaan tersendiri bagi orangtua. Tidur yang berkualitas penting untuk bayi, namun ada saja gangguan tidur yang mengintai Si Kecil. Salah satu gangguan tidur yang kerap terjadi pada bayi adalah bayi sering tertawa sendiri saat tidur.

Mengutip Healthline, tertawa saat tidur dikenal dengan hypnogely, yang lebih sering terjadi pada bayi. Apakah ini berbahaya? Walau ternyata hypnogely merupakan akibat dari masalah saraf bayi, namun ini tidak berbahaya dan tidak memberikan dampak negatif bagi bayi.

Meskipun begitu, dalam beberapa kasus, tertawa saat tidur bisa menjadi sesuatu yang lebih serius, seperti gangguan tidur REM (rapid eye movement). Jika bayi mengalami gangguan ini, maka tubuh yang seharusnya ‘lumpuh’ saat memasuki fase tidur REM, tidak mengalami hal tersebut. Ini membuat bayi bersikap sesuai dengan mimpinya. Tak hanya tertawa, hypnogely juga bisa membuat bayi teriak, atau bahkan terbangun saat tidur.

Tertawa saat tidur juga sering berkaitan dengan gangguan fase tidur non-REM yang disebut parasomnia. Ini adalah kondisi di mana bayi setengah tidur dan setengah tersadar. Gangguan tidur ini tidak hanya menyebabkan tertawa saat tidur, namun juga bisa berjalan saat tidur dan sleep terror pada anak yang sudah lebih besar. Parasomnia umumnya berlangsung selama kurang dari setengah jam, dan lebih sering terjadi pada anak dibandingkan orang dewasa. 

Dalam kasus yang sangat jarang, tertawa saat tidur juga disebabkan oleh suatu jenis kejang yang sangat spesifik, bernama kejang gelastic. Kejang ini membuat bayi bisa tertawa terbahak-bahak dan ia sendiri tidak bisa mengontrolnya. Mengenai durasi kejang gelastic, umumnya ini hanya berlangsung selama 10 sampai 20 detik, yang sangat sering terjadi pada bayi dengan usia sekitar 10 bulan. Ini bisa terjadi saat bayi sudah tertidur nyenyak, namun bisa juga terjadi saat ia baru mulai tertidur (yang pasti membuatnya terbangun lagi).

Meskipun merupakan hal yang wajar, tetapi orangtua perlu jeli mengawasi fenomena yang terjadi. Jika orangtua sering mendapati hal ini terjadi teratur, beberapa kali dalam sehari, disertai tatapan kosong, atau terjadi dengan gerakan tubuh menggeliat atau mendengkur yang terlihat janggal, konsultasikan dengan dokter anak Anda. 

Mendiagnosis kondisi ini cukuplah rumit, dan dokter akan menggali lebih banyak situasi yang terjadi. Tak menutup kemungkinan juga dokter akan menjalankan beberapa tes diagnostik untuk memastikan apa yang sedang terjadi. (VIA)

Related posts