Belum Maksimal, Menag Yaqut Ingin Program Kemandirian Pesantren Dimaksimalkan

Penulis : Dimas | Editor : Haris | Foto : Kemenag

Jakarta,GPriority.co.id-Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas melihat bahwa program Kemandirian Pesantren belum maksimal. Ia menekankan program ini bertitik pada outcome dan peningkatan ekonomi.

“Saya minta program kemandirian pesantren, jangan berhenti pada bantuan finansial saja. Harus benar-benar dilakukan, difikirkan dari hulu ke hilir, semisal ada pemikiran melibatkan pihak lain untuk pengembangan kemandirian pesantren,” tegas Gus Men sapaan akrabnya saat Rapat Koordinasi (Rakor) di Jakarta, Kamis (4/5).

Dalam rapat tersebut, Gus Men membahas 7 program prioritas yang diantaranya, Penguatan Moderasi Beragama, Transformasi digital, tahun toleransi beragama, revitalisasi KUA, Religiosity index, kemandirian Pesantren dan Cyber Islamic University.

Gus Men meminta jajarannya untuk melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) serta merespon cepat keluhan masyarakat.

“Saya minta program yang ada harus melibatkan seluruh stakeholder. Harus dirasakan manfaatnya, bukan hanya formalitas,” ujarnya.

“Seperti program prioritas Penguatan Moderasi Beragama (MB). Program ini belum terasa menggigit, belum terasa di sosial media. Isu-isu MB, di tahun politik sekarang ini seharusnya semakin mengencang. Bukan mengendur,”

Selanjutnya, Program Revitalisasi KUA. Dinilai Gus Men, setelah program ini dilaunching, masih banyak KUA jauh dari yang diharapkan.

“Tolong, kita jangan terjebak dengan rutinitas belaka. Cepat respon keluhan masyarakat,” pesan Gus Men.

Layanan Digital. Gus Men melihat Satuan Kerja (Satket) belum seluruhnya terintegrasi di aplikasi Pusaka. Gus Men juga mendorong seluruh pejabat dan stakeholder harus mendorong setiap Satker untuk terintegrasi ke aplikasi Pusaka.

Terkait program Cyber Islamic University. Gus Men menyampaikan bahwa pada tahun ini akan bertambah enam Program Studi. Atas capaian ini, Gus Men memberikan apresiasi kepada Dirjen Pendis atas upayanya. Namun, ini tidak cukup, karena sarana dan prasana belum sepenuhnya terpenuhi.

Namanya Cyber Islamic University. Sarana prasarananya harus terpenuhi, yakni peralatan dan teknologi harus dipenuhi agar hasilnya baik,” kata Gus Men.

Selain itu, Gus Men menelisik terkait informasi dan capaian Kementerian Agama juga harus terpublikasikan dengan baik dan masif agar diketahui oleh masyarakat. Bahkan, anggaran pendidikan di PTKN harus diperhatikan juga, untuk memberikan pelayanan yang baik.