Benarkah Minyak Kedelai Berpotensi Besar Sebabkan Obesitas?

Penelitian: Minyak Kedelai Berkontribusi Besar Terhadap Obesitas/Foto : Ilustrasi Dok. Getty Images Penelitian: Minyak Kedelai Berkontribusi Besar Terhadap Obesitas/Foto : Ilustrasi Dok. Getty Images

Jakarta, GPriority.co.id – Minyak kedelai menjadi jenis minyak yang sering digunakan untuk mencegah penyakit kronis seperti aterosklerosis, kanker, hingga diabetes.

Minyak kedelai mengandung asam lemak omega-3 dan Omega-6 yang dinilai lebih sehat jika dibandingkan dengan minyak kelapa.

Namun penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Lipid Research, menunjukkan bahwa minyak kedelai kemungkinan berkontribusi besar terhadap obesitas.

Dilansir dari NY Post, minyak kedelai sendiri merupakan jenis minyak goreng yang paling banyak dikonsumsi di Amerika Serikat.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mencoba memberi makanan yang kaya akan minyak kedelai kepada tikus percobaan. Mereka mengobservasi bagaimana tubuh tikus memproses asam linoleat dan asam lemak omega-6 yang sebagian besar terkandung dalam minyak kedelai.

Asam linoleat dipecah dalam tubuh menjadi molekul yang disebut okslipin. Mengonsumsi banyak minyak kedelai dapat meningkatkan kadar okslipin. Hasilnya, penelitian menunjukkan bahwa okslipin berkaitan dengan kenaikan berat badan pada tikus yang di uji coba.

Lebih lanjut, para peneliti juga mengelompokkan tikus yang diberi makanan dengan banyak kandungan minyak kedelai, serta tikus yang tak mengonsumsinya.

Hasilnya, peneliti menemukan bahwa tikus yang tidak mengonsumsi makanan dengan kandungan minyak kedelai memiliki hati yang lebih sehat dengan berat badan yang lebih ringan, ketimbang tikus yang mengonsumsinya.

Okslipin juga ditemukan lebih banyak pada tubuh tikus yang mengalami obesitas. Penelitian tersebut mengungkap bahwa pemrosesan internal asam linoleat dalam tubuh kemungkinan memainkan peran kunci bagaimana minyak kedelai berkontribusi terhadap akumulasi lemak.

Bukan hanya soal kalori dalam minyak kedelai, namun juga apa yang diubah tubuh menjadi asam lemak setelah memasuki sistem metabolisme. Perlu diketahui, penelitian ini dilakukan sepenuhnya pada tikus. Peneliti menekankan bahwa metabolisme manusia dapat lebih kompleks.

Minyak kedelai sendiri merupakan minyak goreng yang sering digunakan di rumah tangga, restoran, juga pada makanan olahan Amerika. Karena harganya yang terjangkau dan rasanya yang netral, kandungan minyak kedelai sering ditemukan pada makanan ringan kemasan, makanan cepat saji, serta gorengan.