Jakarta,Gpriority.co.id – Setiap tanggal 28 Oktober Bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk membangkitkan jiwa dan sikap nasionalisme pemuda Indonesia serta mempertebal persatuan bangsa. Sejak era kolonial hingga kemerdekaan pemuda sudah menjadi harapan dalam kehidupan sosial dan bernegara. Kita masih ingat bukan akan kalimat legenda yang dicetuskan Presiden Republik Indonesia Pertama, Ir. Soekarno yang mengatakan, ‘berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kugoncangkan dunia.’ Kalimat yang masih relevan dengan kondisi saat ini dimana dengan kontribusi pemuda maka kemajuan sebuah bangsa bisa dicapai. Menjadi sebuah tantangan kemudian ialah kebijakan Presiden Joko Widodo yang menegaskan kawasan perbatasan merupakan beranda depan Indonesia yang mewakili wajah bangsa yang harus terus dibangun agar bisa jadi representasi kemajuan Indonesia. Hal itu dikemukakannya pada tahun 2021 lalu saat meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Sota, Merauke, Papua.
Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) sebagai stakeholder terkait menyadari akan potensi dan peran pemuda yang ada di perbatasan. Menurut BNPP langkah strategis pertama yang dapat dilakukan pemuda untuk menjaga NKRI ialah merekatkan kembali kohesi nasional, yakni dengan memperkukuh persatuan dan kesatuan yang tidak bisa dilakukan secara parsial, dan harus melibatkan semua komponen bangsa. Dalam keterangan pers-nya, BNPP mengatakan, langkah itu bisa dilakukan dengan menghimpun generasi muda dalam kegiatan nyata yang jauh dari kepentingan golongan. Agar lebih praktis dapat dilakukan simposium dan sarasehan pemuda yang diisi dengan kegiatan-kegiatan sosial budaya. Perlu diketahui media yang paling efektif untuk membangkitkan persatuan dan kesatuan pemuda adalah seni budaya, yang berlandaskan pada nilai-nilai budaya bangsa, karena itu perlu dirumuskan jenis dan bentuknya.
Adapun langkah strategis kedua, melakukan reorientasi dan revitalisasi wawasan kebangsaan, persatuan dan kesatuan bangsa, serta integrasi nasional. Perlu di sadari, terjadinya berbagai stagnasi dan distorsi dalam kehidupan kebangsaan ini menuntut peran pemuda dengan serius untuk kritis dan selektif terhadap berbagai aliran politik yang masuk. Terlebih saat ini politik partai politik dan politik aliran sudah mulai merambah masuk dengan derasnya kesetiap pelosok tanah air, sehingga hal ini memungkinkan terjadinya pergesekan kepentingan antar kelompok dan golongan. BNPP menegaskan, pemuda Indonesia harus mengambil peran yang strategis dalam menghadapi gelombang politik ini.
Walau begitu, harus diingat bahwa peran yang dimainkan pemuda bukan dalam artian parsial dikotomis, melainkan peran yang konstruktif dan holistik. Aksi-aksi yang lebih detail dapat dikemukakan secara garis besar seperti mengadakan kajian dan memberi solusi pemikiran terhadap berbagai isu aktual dan kebijakan pemerintah yang menyangkut kehidupan rakyat banyak. Kemudian membangun silaturahim yang berkelanjutan antara Pemuda dengan intitusi legislatif, eksekutif, yudikatif, ormas dan LSM sebagai upaya menyamakan visi, misi mengawal reformasi pembangunan di segala bidang. Termasuk mensinergikan seluruh potensi Pemuda seperti politisi, birokrat, pengusaha dan intelektual untuk mengemban misi pencerahan bangsa. Dapat pula membentuk posko-posko gerakan anti korupsi dan penyalahgunaan jabatan (abuse of power) dalam rangka menciptakan pemerintahan yang bersih (good governance). Tak kalah penting juga meningkatkan kepekaan Pemuda terhadap persoalan-persoalan pembangunan dan politik lokal, dalam rangka melakukan social control sekaligus sebagai social support terhadap seluruh proses pembangunan nasional di segala bidang. Melakukan pula pembangunan kekuatan Pemuda yang berperan sebagai tenda besar bagi pemuda Global khususnya dan umat manusia pada umumnya dalam rangka mengemban misi indonesia berdaulat NKRI. Selain itu dengan membentuk dan mengembangkan simpul-simpul aksi kepedulian terhadap berbagai persoalan umat menuju kearah kesejahteraan bersama. Disisi lain juga harus menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga dalam rangka meningkatkan kualitas Pemuda, baik dalam bidang IPTEK maupun politik, birokrasi, pengusaha dan intelektual. Terakhir, proaktif membangun dan mengembangkan solidaritas umat dan manusia terhadap berbagai persoalan regional dan nasional yang menyangkut ketidakadilan, HAM dan kemanusiaan atau SARA. Jika aksi-aksi tersebut dapat dilakukan dengan baik, BNPP percaya jargon pemuda perbatasan masa depan Indonesia seperti digaungkan Presiden Joko Widodo tentu dapat terlaksana.
Apa yang gaungkan Presiden dan apa yang menjadi harapan BNPP ternyata selaras dengan aparatur daerah yang berada di perbatasan. Mike Christian Walinaulik, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kabupaten Merauke mengatakan perbatasan adalah teras bangsa Indonesia. Atas dasar itu Mike menekankan pentingnya pemuda mengambil peran dan terlibat aktif dalam segala kegiatan setempat seperti Karang Taruna, Olahraga, Sosial bahkan menjaga keamanan di sekitar wilayah perbatasan. Pihak Pemerintah Daerah (Pemda) sendiri, sebutnya memiliki banyak program pelatihan yang dapat diikuti para pemuda Merauke. Pelatihan dari dinas terkait seperti dari pertanian dan peternakan bisa diintensifkan lagi mengingat masih banyaknya lahan yang belum dikelola secara baik. “Bupati memiliki banyak program untuk para pemuda yang diharapkan mereka kelak mandiri dan memiliki daya saing,” ujar Mike.
Program tersebut biasanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi di daerah setempat. Misalnya di wilayah Sota dimana cocok untuk pertanian tanaman keras atau minyak kayu putih. “Jadi disesuaikan pelatihannya dengan situasi kondisi distrik etempat,” jelasnya. Cukup menggemberikan pelatihan yang diberikan Pemda biasa selalu diikuti oleh para pemuda Merauke dengan antusias. Mike menerangkan untuk pelatihan dari dinas terkait Merauke rata-rata sudah pernah memberikannya kepada para pemuda. “Tapi ya kembali lagi kepada kultur dan pribadi masing-masing, mau atau tidak melanjutkan dan mengimplementasikannya,” katanya.
Nasionalisme Pemuda Perbatasan
Selain memberikan pelatihan, Mike menghimbau agar pemerintah mau memberikan kesempatan kepada pemuda perbatasan untuk dapat bekerja di instansi setempat. “Saya dulu pernah mengabdi di Sota, yang menjadi tantangan adalah kurangnya lapangan pekerjaan bagi para pemuda di perbatasan. Banyak dari mereka yang hanya bekerja sebagai ojek atau buruh bangunan. Tidak semua dari mereka sarjana, ada yang tamatan SD, SMP dan SMA, kalau bisa kasih mereka kesempatan dengan menjadi kader pemuda lokal bagi bea cukai, imigrasi dan lainnya. Jangan ambil pegawai dari daerah lain, sebab para pemuda lokal di perbatasan lah yang menguasai medan, sosial dan budaya setempat,” pintanya. Mike percaya untuk urusan nasionalisme, pemuda yang ada di Sota tak kalah dengan daerah lain. ‘Untuk nasionalisme itu, NKRI sudah harga mati. Tidak ada tawar menawar,” pungkasnya.
Nasionalisme yang sama juga ditunjukan oleh para pemuda yang ada di Kabupaten Morotai, Maluku Utara. Menurut Sunardi Barakati, Kadispora Kabupaten Morotai, pemuda perbatasan di Pulau Morotai berprinsip menjaga NKRI walau secara geografis dekat dengan Filipina, Australia dan Jepang. “Kami sangat perduli dengan NKRI,” ucapnya tegas. Sebagai gambaran, pemuda di Morotai cukup pro aktif seperti jika ada penduduk asing singgah, para pemuda akan berperan menjaga keamanan dan penduduk asing akan diarahkan sesuai dengan tujuannya.
Sunardi berharap uluran tangan pemerintah untuk pemuda di Morotai dalam hal peningkatan SDM sampai modal usaha lebih ditingkatkan. Pasalnya banyak pemuda Morotai yang menekuni usaha kerajinan tangan dari besi putih, kerajinan daun pisang hingga mengembangkan wisata lokal. “Pemuda di Morotai sangat membutuhkan program peningkatan kualitas SDM serta permodalan,” imbuhnya. Selain itu sarana prasarana telekomunikasi atau penyediaan jaringan internet pun dibutuhkan bagi masyaraat Morotai. “Pada beberapa titik masih manual tidak bisa menggunakan alat komunikasi dan tidak sempurna. Intinya jaringan internet masih terbatas di wilayah kami,” terangnya.
Kreativitas di tengah Keterbatasan
Seperti halnya perbatasan Indonesia lainnya, Kabupaten Melawi di Kalimantan Barat pun memiliki tantangan tersendiri dalam membina kaum muda. Iiq Pribadi, Kabag Humas Melawi memaparkan Kabupaten Melawi mimiliki wilayah yang luas namun APBD dan PAD-nya sangat kecil. Karenanya Pemda memiliki kesulitan terkait pembinaan utamanya persoalan budaya dan seni di kalangan pemuda. Meski begitu, bukan berarti Pemda tidak memperhatikan urusan kaum muda. Pemda memang telah membentuk Karang Taruna namun masih kurang dalam hal pembinaan. “Kalau memang dari pusat ingin membantu, utamakan di bidang pemuda perbatasan ini. Saya miris melihat kondisi semangat anak-anak muda di daerah ini. Pun halnya dengan Apkasi tidak hanya memamerkan produk saja lebih dari itu menjadi ajang pertunjukan budaya masing-masing daerah,” sebutnya.
Iiq mengkisahkan bagaimana pihaknya membina anak jenjang SD hingga SMA dalam sanggar budaya setempat. Antusias anak-anak muda dalam berkesenian di sanggar dirasanya cukup tinggi namun kurangnya dukungan beragam stakeholder dan minimnya kompetensi membuat sanggar seolah berjalan di tempat. Anak muda di Melawi, jelasnya, juga mulai merambah ke dunia digital dengan membuat konten khas tempatan. Iiq sendiri sejak tahun 2018 sempat mengumpulkan kaum muda yang suka nge-vlog dan traveling dalam satu wadah bernama generasi pesona Indonesia. “Jadi kalau bicara potensi, anak muda Melawi tak ketinggalan dengan mereka yang ada di kota,” katanya.
Kondisi yang sama juga terlihat di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara yang berbatasan dengan negeri jiran Malaysia. Asnawi, Kadispora Kabupaten Nunukan mengatakan bahwa rata-rata kaum muda Nunukan telah menjalankan home industri. “Mulai dari pengembangan UMKM yang jualan di wilayah tertentu dengan barang dagangan khas Nunukan itu rata-rata dilakukan kaum muda,” sebutnya. Menurutnya kreativitas anak muda di Nunukan masih terasah dengan adanya kegiatan sosialisasi bahaya Narkoba, sosialisasi UMKM dan gerakan sadar politik atau melek politik. Demikian halnya dengan kegiatan budaya dimana anak muda kerap berpartisipasi dengan tarian hingga level Kabupaten. “Saat ini banyak lomba tarian daerah seperti zapin dan tarian pedalaman di Nunukan, hanya saja jarang terekspos,” tandasnya.
Bahkan Dinas Pendidikan bekerjasama dengan salah satu organisasi masyarakat Suku Tidung telah membuat kamus bahasa Indonesia, bahasa daerah Tidung. “Mereka yang mengerjakan rata-rata kaum muda atas bimbingan kelompok adat atau ketua adat,” ucap Asnawi. Dibuatnya kamus tersebut didasari oleh semakin tersingkirnya bahasa setempat yakni bahasa tidung karena di Nunukan sudah banyak orang pendatang utamanya di wilayah pesisir. “Mereka takut bahasa tidung kelak ditinggalkan oleh kaum muda, karenanya kamus dibuat untuk menjaga bahasa tidung,” tuturnya. Menariknya, bahasa tidung juga digunakan hingga wilayah Malaysia. Kedepan kaum muda Nunukan pun berencana membuat kamus bahasa Agabag. “Jadi kaum muda Nunukan yang kembangkan, nanti mereka yang di Malaysia yang biasa menggunakan bahasa ini tinggal mengikutinya,” pungkasnya.
Asnawi berharap semangat kaum muda Nunukan dapat tertular ke wilayah Kalimantan Utara lainnya. “Kita tinggal rubah mindset, jangan lagi menunggu pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Lakukan saja apa yang dapat dilakukan,” tegasnya. Ajakan yang sama juga dihaturkan Iiq agar para pemuda perbatasan kreatif dan harus berani jangan terlalu terkungkung di daerahnya sehingga tidak berani bersaing diluar. “Beranilah berbuat, mimpi yang tinggi dan wujudkan. Jika sudah sukses jangan lupa kembali ke daerah asal untuk membangun,” pintanya. (PS/dbs)
