Bertolak Ke Rusia, Mendag Bahas Peningkatan Kerja Sama dan Investasi

 

Guna meningkatkan kembali sektor perekonomian Indonesia, sekaligus memperkuat hubungan dagang dan investasi antara Indonesia dengan negara-negara di kawasan Eurasia, Menteri Perdagangan  Muhammad Lutfi beberapa waktu yang lalu melakukan kunjungan ke St. Peterseburg.

 Dalam kunjungan tersebut, Mendag M.Lutfi pertemuan maraton dilakukan dengan sejumlah menteri, yaitu Menteri Perdagangan dan Industri Rusia, Denis Manturov, Menteri yang Bertanggung Jawab  atas Integrasi dan Makro ekonomi Komisi Ekonomi Eurasia Sergei Glazyev, serta Menteri yang Bertanggung Jawab atas Perdagangan Komisi Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Comission/EEC), Andrey Slepnev.

 “Pada pertemuan dengan Menperindag Manturov, Indonesia mengharapkan relasi perdagangan yang lebih intens dengan Rusia. Selain itu, Indonesia juga berupaya mengurangi hambatan akses kelapa sawit di Rusia,” jelas Mendag M.Lutfi.

 Mendag Lutfi dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan ketertarikan Indonesia untuk berpartisipasi pada INNOPROM Trade Fair dan Kazan Halal Expo 2021.

Sementara Menperindag Manturov menyampaikan permohonan agar Indonesia dapat mendukung Rusia menjadi tuan rumah World Expo 2030 dan kesediaan untuk melaksanakan Expert Meeting on Fisheries and Agriculture dalam waktu dekat.

Mendag M.Lutfi dalam kesempatan tersebut juga mengundang Menperindag Manturov berkunjung ke Indonesia guna membahas berbagai upaya peningkatan perdagangan.

Selain bertemu Manturov,Mendag M.Lutfi dalam kesempatan tersebut juga melakukan pertemuan dengan  Menteri yang Bertanggung Jawab  atas Integrasi dan Makro ekonomi Komisi Ekonomi Eurasia Sergei Glazyev. Pada pertemuan dengan Menteri Glazyev, Mendag menegaskan akan menjalin kemitraan perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan antara Indonesia-Rusia dan antara Indonesia dengan negara-negara Eurasia yang lain.

Tak hanya itu, Mendag M.Lutfi juga menawarkan minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya. Mekanismenya bisa dengan mendatangkan produknya secara langsung atau bisa juga dengan membangun pabrik pengolahan untuk memproduksi produk CPO dan turunannya, seperti minyak goreng atau fat oil turunan lain untuk berbagai kebutuhan industri di kawasan Eurasia.

Indonesia seperti dituturkan M.Lutfi juga berminat mengirimkan sumber daya manusia (SDM) untuk belajar mengenai teknologi pengolahan gas dan pembangkit listrik. Setelah itu, mereka akan diminta untuk mengembangkannya di daerah-daerah terpencil di Indonesia yang membutuhkan. Ini merupakan kebutuhan Indonesia untuk pengembangan SDM sekaligus infrastruktur.

“Kami tidak hanya memerlukan produk yang dikembangkan dengan teknologi tinggi dari mereka, tapi juga ingin mengembangkan produk-produk Indonesia bernilai tambah tinggi untuk itu kita perlu transfer pengetahuan dan teknologi,” kata Mendag Lutfi.

Mendag juga menyampaikan perhatian Indonesia mengenai aturan EAEU terkait pembatasan kandungan kontaminan untuk minyak nabati yang cenderung lebih ketat ketimbang negara tujuan ekspor lainnya seperti Uni Eropa.

Selanjutnya pada pertemuan dengan Menteri Slepnev, Indonesia dan EAEU sepakat untuk meningkatkan hubungan dagang kedua belah pihak. Kedua Menteri juga sepakat untuk segera menyelesakan Joint Feasibility Study FTA Indonesia-EAEU.

“Indonesia dan EAEU sepakat untuk menyelesaikan Joint Feasibility Study FTA sesuai dengan jadwal yang direncanakan pada September 2021. Indonesia juga mengusulkan agar peluncuran pembentukan FTA dapat segera dilakukan di Indonesia,” jelas Mendag Lutfi.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witjaksono menyampaikan, Joint Feasibility Study Group (JFSG) Indonesia dan EAEU perlu segera diselesaikan sebagai tindak lanjut dari pertemuan Kedua Kepala Negara di sela-sela ASEAN-Russia Summit di Sochi pada bulan Mei 2016.

Sekedar informasi, total perdagangan Indonesia-EAEU pada 2020 tercatat sebesar USD 2,25 miliar. Ekspor Indonesia ke EAEU sebesar USD 1,00 miliar dan impornya USD 1,25 miliar. Komoditas ekspor Indonesia ke EAEU yaitu antara lain minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya (USD 431,4 juta), kopra (USD 67,2 juta), kopi (USD 36,7 juta), karet alam (USD 32,3 juta), dan mentega kakao (USD 32,3 juta).

Komoditas impor Indonesia dari EAEU antara lain pupuk nonorganik atau kimia, potassic (USD 272,1 juta), besi dan baja setengah jadi (USD 266 juta); batu bara (USD 159,2 juta), ferro alloys (149,9 juta), serta pupuk nonorganik atau kimia dengan 2—3 elemen pupuk (USD 78,2 juta).(Hs.Foto.dok.Humas Kemendag)

 

 

Related posts