Jakarta, GPriority.co.id – Dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang majemuk, tidak jarang kita memiliki tetangga, sahabat, rekan kerja, bahkan keluarga besar yang berbeda agama. Karena itu, ketika mereka merayakan hari besar keagamaan seperti Natal, undangan untuk hadir pun sering kali kita terima.
Lantas, bagaimana pandangan Islam terkait menghadiri undangan perayaan Natal?
Founder Santri Motivator School, Ustad Asroni Al Paroya, menjelaskan bahwa ketika menerima undangan Natal, Islam mengajarkan umatnya untuk menyikapi hal tersebut dengan tenang, berilmu, dan tidak berlebihan.
Ia menegaskan bahwa Islam bersikap tegas dalam urusan iman, namun sangat luas dan lembut dalam urusan sosial.
Dalam perkara akidah, Allah SWT telah menegaskan dengan sangat jelas:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa” (QS. Al-Ikhlas: 1)
“Artinya, dalam hal keyakinan, umat Islam tidak boleh mencampuradukkan akidah. Itu adalah prinsip yang tidak bisa ditawar. Namun Islam juga tidak mengajarkan kita untuk memutus hubungan sosial hanya karena perbedaan agama,” ujar Ustad Asroni kepada GPriority, Selasa (23/12).
Allah sendiri berfirman:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu.”(QS. Al-Mumtahanah: 8)
Menurutnya, ayat tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Selama tidak ada permusuhan, Islam justru mendorong umatnya untuk tetap berbuat baik dan menjaga hubungan sosial.
Dalam konteks menghadiri undangan Natal, Ustad Asroni menilai bahwa hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa kehadiran sama dengan ikut serta dalam ibadah.
“Padahal dua hal ini berbeda. Datang untuk silaturahmi, menghormati undangan, atau menjaga hubungan sosial, tidak sama dengan ikut doa atau ritual,” tuturnya.
Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan yang sangat manusiawi. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan:
مَرَّتْ جِنَازَةٌ فَقَامَ لَهَا النَّبِيُّ ﷺ
“Pernah lewat jenazah, lalu Nabi SAW berdiri menghormatinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika para sahabat mengatakan bahwa jenazah tersebut adalah jenazah seorang Yahudi, Nabi SAW menjawab:
أَلَيْسَتْ نَفْسًا؟
“Bukankah dia juga manusia?”
“Ini menunjukkan bahwa menghormati orang lain secara sosial tidak merusak iman, justru menunjukkan kematangan iman,” ucap Ustad Asroni.
Ia juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berinteraksi, bermuamalah, bahkan menerima tamu dari kalangan non-Muslim. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”(QS. Al-Baqarah: 83)
Ayat tersebut, kata Ustad Asroni, tidak ditujukan hanya kepada sesama Muslim, melainkan kepada seluruh manusia. Oleh karena itu, berbicara dengan baik, bersikap sopan, dan hadir dengan niat silaturahmi merupakan bagian dari ajaran Islam.
Namun demikian, Islam juga memberikan batasan yang jelas. Allah SWT berfirman:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)
“Artinya, kita boleh hadir secara sosial, tapi tidak ikut ibadah, tidak mengamini doa-doa ritual, dan tidak mengucapkan hal-hal yang bertentangan dengan akidah Islam,” tegas Ustad Asroni.
Rasulullah SAW juga menegaskan tujuan utama diutusnya beliau:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad)
Menurut Ustad Asroni, akhlak mulia inilah yang menjadi wajah Islam di tengah masyarakat majemuk seperti Indonesia.
“Jadi kalau kita simpulkan dengan bahasa sederhana, menghadiri undangan Natal itu boleh, selama niatnya silaturahmi, acaranya bersifat sosial, tidak ikut ritual ibadah, dan akidah tetap dijaga. Kalau kita merasa ragu atau khawatir iman kita terganggu, tidak hadir pun tidak berdosa. Islam tidak memaksa,” jelas Ustad Asroni.
Menurutnya, Islam bukan agama yang kaku, namun juga tidak longgar tanpa batas. Islam adalah agama yang seimbang, teguh dalam iman, ramah dalam pergaulan. Dan di negara majemuk seperti Indonesia, sikap inilah yang menjadikan Islam benar-benar terasa sebagai rahmat bagi seluruh alam.
