Betlehem, Gpriority.co.id – Betlehem di Tepi Barat bersolek menyambut perayaan Natal setelah selama dua tahun perang Gaza tidak merayakannya. Masyarakat pun antusias menyambutnya.
BBC melaporkan, setelah gencatan senjata dilangsungkan, otoritas setempat memutuskan perayaan Natal akan kembali dilakukan. Hal ini ditandai dengan penyalaan pohon Natal raksasa tradisional di depan Gereja Nativity yang bersejarah.
Wali Kota Betlehem, Maher Canawati mengungkapkan jika selama dua tahun Betlehem sangatlah sunyi tanpa Natal dan tidak ada pekerjaan. “Kita semua hidup di sini karena pariwisata, dan pariwisatanya turun hingga nol,” ujarnya.
Dilansir Al Jazeera, Betlehem mengalami penurunan pariwisata yang bersejarah. Menurut Kamar Dagang kota tersebut, Betlehem mengalami penurunan 90 persen jumlah pengunjung dibandingkan dua tahun lalu. Kamar Dagang tersebut menambahkan bahwa, selama periode ini, kota tersebut kehilangan $1,5 juta per hari.
Disisi lain pengangguran dan kemiskinan telah meningkat di seluruh Tepi Barat yang diduduki selama dua tahun terakhir. “Pengangguran mencapai 34 persen dan jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan telah meningkat. Lebih dari 40 persen berjuang untuk bertahan hidup,” ujar Samir Hazboun, perwakilan Kamar Dagang Betlehem, kepada Al Jazeera.
Wali Kota Canawati merasa momen gencatan senjata adalah hal yang tepat untuk kembali merayakan Natal. “Natal tidak boleh dihentikan atau dibatalkan. Inilah secercah harapan bagi kita,” tandasnya.
Sementara, Hamza, seorang pemandu wisata menegaskan jika Betlehem adalah kota wisata. “Tanpa pariwisata, tak ada kehidupan,” sebutnya. Ia pun berharap orang-orang kembali seperti sebelumnya seperti dari Eropa, Timur Tengah, Amerika, Amerika Latin, dan mana pun. “Kami mulai dengan menyalakan pohon Natal, dan kami akan menunggu,” imbuhnya.
Saat ini lampu-lampu berwarna cerah menghiasi jalan-jalan dan terdapat papan-papan iklan yang mengiklankan bazar Natal dan pesta anak-anak. Di tepi Manger Square, beberapa pelanggan sedang menunggu untuk membeli bola-bola falafel yang lezat dari deretan toko.
Kota seperti Beit Jala dan Beit Sahour, pun berencana untuk menyalakan pohon Natal dalam beberapa hari mendatang. Hotel-hotel – yang sebagian besar kosong selama dua tahun terakhir – menerima banyak pemesanan dari warga Palestina di Israel serta beberapa wisatawan asing.
Warga Palestina berharap upacara penyalaan pohon Natal pertama dalam tiga tahun akan mendorong wisatawan untuk kembali ke kota tersebut, yang telah mengalami krisis ekonomi yang parah.
Nour Odeh dari Al Jazeera, menyampaikan walau upacara penyalaan pohon Natal tahun ini lebih sederhana daripada sebelumnya, namun warga Palestina di Betlehem melihatnya “sebagai kesempatan untuk – di satu sisi – memberi anak-anak mereka sedikit kebahagiaan, tetapi di sisi lain memberi tahu dunia bahwa Betlehem terbuka dan siap menerima mereka” dengan harapan “memberikan kehidupan baru bagi perekonomian.”
Foto : Wiki
