Jakarta, GPriority.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta merilis sejumlah indikator ekonomi dan sosial, meliputi Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Triwulan IV 2025, Profil Kemiskinan September 2025, serta Keadaan Ketenagakerjaan November 2025, Kamis (5/2).
Hasil rilis tersebut menunjukkan kinerja ekonomi DKI Jakarta tetap tumbuh positif pada akhir 2025. Secara year-on-year (y-on-y), pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 mencapai 5,71 persen, meningkat dibandingkan Triwulan IV 2024. Sementara secara quarter-to-quarter (q-to-q), ekonomi DKI Jakarta tumbuh 3,41 persen dibandingkan Triwulan III 2025.
Sepanjang 2025, total nilai ekonomi yang tercipta di Jakarta tercatat sebesar Rp3.926,15 triliunberdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB). Sementara PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) mencapai Rp2.263,24 triliun.
Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada 2025 terutama ditopang oleh sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor yang berkontribusi 0,88 persen, diikuti sektor informasi dan komunikasi sebesar 0,85 persen, serta jasa perusahaan sebesar 0,64 persen. Sektor lainnya secara kumulatif menyumbang pertumbuhan sebesar 2,84 persen.
Kemiskinan Menurun
BPS juga mencatat penurunan tingkat kemiskinan di DKI Jakarta. Pada September 2025, garis kemiskinan tercatat sebesar Rp897.768 per kapita per bulan, meningkat 5,28 persen dibandingkan Maret 2025.
Komposisi garis kemiskinan tersebut terdiri atas 69,3 persen komponen makanan dan 30,7 persen komponen bukan makanan. Adapun garis kemiskinan per rumah tangga miskin mencapai Rp4.578.617 per bulan, dengan rata-rata anggota rumah tangga miskin sebanyak 5,1 orang.
Jumlah penduduk miskin pada September 2025 tercatat 439,12 ribu orang, turun 25,75 ribu orangdibandingkan Maret 2025. Secara persentase, tingkat kemiskinan menurun dari 4,28 persen menjadi 4,03 persen, yang merupakan level terendah sejak pandemi COVID-19.
Pengangguran Meningkat
Di sisi lain, kondisi ketenagakerjaan menunjukkan tantangan tersendiri. Jumlah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) pada November 2025 tercatat 8,44 juta orang. Dari jumlah tersebut, 5,53 juta orangmerupakan angkatan kerja dan 2,91 juta orang bukan angkatan kerja.
Penduduk bekerja mencapai 5,18 juta orang, meningkat sekitar 48,6 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Namun, peningkatan ini didominasi oleh pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran, sementara jumlah pekerja penuh justru menurun.
Jumlah pengangguran pada November 2025 tercatat 349 ribu orang, meningkat dibandingkan Agustus 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 6,90 persen, naik dari 6,21 persenpada Agustus 2025.
Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta, Kadarmanto, menilai kondisi ekonomi Jakarta secara umum masih tergolong baik, meskipun terjadi kenaikan angka pengangguran.
“Kalau saya lihat tadi secara umum kondisinya bagus di DKI. Terlepas tadi di tenaga kerja meningkat, meskipun penggurannya meningkat tetapi sebetulnya sisi positifnya kan yang para pegawai buruh karyawan pekerja tetap terjadi peningkatan. Itu bagus. Berarti kan intervensi pemerintah DKI selama ini bagus,” kata Kadarmanto di Kantor BPS DKI Jakarta.
Namun, ia menekankan bahwa peningkatan pengangguran dipengaruhi oleh tingginya jumlah pekerja bebas yang rentan kehilangan pekerjaan. Menurutnya, kelompok ini membutuhkan perhatian dan intervensi khusus dari pemerintah, terutama melalui program bantuan dan perlindungan ketenagakerjaan.
“Tapi pemerintah untuk mengontrol yang pekerja bebas bagaimana itu? Itu yang menyebabkan dia rentan sekali, karena bebas. Dia gak kerja ya boleh gak apa-apa, tapi penyebabnya pengangguran meningkat kan. Tapi kan kalau pegawai lebih terkontrol gitu. Nah, intervensi dari pemerintah ini sebetulnya sulit untuk yang para pekerja bebas. Mudah-mudahan ada yang kesananya untuk pemerintah dari sisi bantuan-bantuan,” pungkasnya.
