Jakarta, GPriority.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS), melaporkan jika Indeks Harga Konsumen per Agustus 2025 mengalami deflasi sebesar 0,08 persen (month to month). Namun secara year on year, terjadi inflasi 2,31 persen.
Melihat hal tesebut, pemerintah dan peneliti pun memiliki pandangan berbeda terkait isu deflasi Indeks Harga Konsumen per Agustus 2025 ini.
Dari sisi pemerintah, menurut Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, kondisi deflasi pada Agustus 2025 ini dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan akibat adanya panen raya.
Airlangga juga menilai jika ada beberapa komoditas pangan yang mengalami penurunan harga, beberapa diantaranya seperti tomat dan cabai rawit. Di samping itu, pemerintah juga tengah menjaga stabilitas harga dan pasokan dengan melalui penyaluran beras SPHP. Sehingga, menurutnya harga beras dapat dikendalikan.
Beda halnya dengan pandangan pemerintah, Wijayanto selaku Ekonom Universitas Paramadina memiliki pandangan yang berbeda. Ia menilai ada yang aneh pada deflasi di bulan ini. Pasalnya pada Juni-Juli pemerintah telah memberikan berbagai insentif. Saat insentif berakhir di Agustus, maka inflasi harusnya mengalami peningkatan.
Oleh sebab itu, Wijayanto menilai jika deflasi pada Agustus 2025 ini justru menggambarkan adanya penurunan daya beli yang signifikan dari masyarakat Indonesia. Ditambah lagi, tak ada momen besar yang menyebabkan fluktuasi musiman pada bulan Mei hingga Agustus 2025.
Menurutnya, pengendalian harga oleh pemerintah juga tak terlalu berdampak karena harga beras justru saat ini mengalami kenaikan.
Dari pihak BPS sendiri menyebut jika mayoritas komponen mengalami deflasi pada Agustus 2025, seperti komponen harga yang mengalami deflasi sebesar 0,61 pesen.
Adapun komoditas yang dominan mengalami kenaikan harga diantaranya seperti tomat, cabai rawit, hingga bawang putih.
