Bubur Asyura, Tradisi Penuh Makna di Bulan Muharram

Jakarta, GPriority.co.id – Dalam merayakan 10 Muharam 1446 Hijriah atau 2024 Masehi, tradisi memasak dan membagikan Bubur Asyura masih lestari di berbagai daerah di Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar hidangan lezat, tetapi sarat makna dan nilai-nilai sejarah yang patut dilestarikan. Bagaimana sejarah Bubur Asyura ini?

Bubur Asyura memiliki sejarah panjang yang terhubung dengan peristiwa penting dalam Islam, yaitu tragedi Karbala. Pada tanggal 10 Muharram, cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain bin Ali, dan pengikutnya dibantai dalam pertempuran melawan pasukan Yazid bin Muawiyah di Karbala, Irak.

Konon, keluarga yang berlindung di rumah Imam Husain saat itu hanya memiliki sedikit bahan makanan, yaitu tepung, air, dan kurma. Mereka kemudian mencampurkan bahan-bahan tersebut dan memasaknya menjadi bubur untuk dibagikan kepada pengikut dan anak-anak. Bubur ini kemudian dikenal sebagai Bubur Asyura.

Bubur Asyura bukan hanya hidangan untuk mengenang tragedi Karbala, tetapi juga memiliki makna dan filosofi yang mendalam. Bubur yang terbuat dari berbagai macam bahan ini melambangkan persatuan dan kesatuan umat Islam. Rasa manisnya melambangkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT, sedangkan rasa gurihnya melambangkan rasa sabar dan ketabahan dalam menghadapi cobaan.

Memasak dan membagikan Bubur Asyura juga menjadi tradisi untuk mempererat silaturahmi antar tetangga dan kerabat. Tradisi ini menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama, terutama bagi mereka yang kurang beruntung.

Bubur Asyura umumnya terbuat dari beras, santan, gula merah, jahe, kayu manis, kapulaga, cengkeh, dan berbagai macam topping seperti kismis, kacang almond, dan potongan buah-buahan. Cara membuatnya pun cukup mudah, yaitu dengan mencampurkan semua bahan dan memasaknya hingga matang dan mengental.

Tradisi Bubur Asyura memiliki variasi di berbagai daerah di Indonesia. Di Jawa, bubur ini biasanya dimasak dalam jumlah besar dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Di Sumatera, bubur ini sering diwarnai dengan warna hijau dan putih yang melambangkan kesuburan dan kedamaian. Di Kalimantan, bubur ini biasanya dimasak dengan tambahan santan dan telur.

Bubur Asyura bukan hanya tradisi kuliner, tetapi juga warisan budaya dan nilai-nilai Islam yang patut dilestarikan. Tradisi ini mengingatkan kita akan pentingnya persatuan, kesatuan, rasa syukur, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama.

Foto: Shutterstock