Jakarta, GPriority.co.id – Kunjungan Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah, Raja Abdullah II ibn Al Hussein, di Indonesia selama dua hari, Jumat–Sabtu (14–15/11), telah resmi berakhir.
Ia meninggalkan Tanah Air melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Sabtu (15/11), dan dilepas langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Selama berada di Indonesia, Raja Abdullah II menjalani sejumlah agenda penting. Pada Jumat (14/11), ia menggelar pertemuan bilateral dengan Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, kemudian menghadiri jamuan santap malam kenegaraan di Istana Negara sebagai simbol kehangatan hubungan historis Indonesia dan Yordania.

Pada Sabtu (15/11), Raja Abdullah II sarapan bersama Prabowo di hotel tempatnya bermalam sebelum bersama-sama menuju Lanud Halim Perdanakusuma. Di sana, keduanya menyaksikan demonstrasi kemampuan drone hasil kolaborasi TNI dan Angkatan Bersenjata Yordania di Lapangan Tembak Djamsuri AU.
Agenda ini menjadi salah satu momen puncak kunjungan kenegaraan, sekaligus menegaskan penguatan kerja sama pertahanan kedua negara. Suasana kebanggaan tampak kuat selama demonstrasi tersebut.

Komandan Komando Operasi Khusus TNI, Mayjen TNI Yudha Airlangga, mengatakan bahwa rangkaian acara disusun komprehensif, mulai dari penyambutan hingga pertunjukan kemampuan tempur.
“Kami tampilkan latihan keterampilan bela diri Merpati Putih, bela diri bangsa, kemudian selanjutnya latihan keterampilan tactical drone yang merupakan gabungan antara TNI dengan Angkatan Bersenjata Yordania,” ujar Mayjen Yudha dikutip dari situs Presiden RI, Sabtu (15/11).
Ia menambahkan bahwa demonstrasi drone menjadi sorotan karena menampilkan teknologi yang tengah dikembangkan kedua negara.
Sementara itu, Danden Lap Paspampres Letkol Inf Petrus Paramayudo Prabowo memaparkan bahwa kemampuan yang ditunjukkan merupakan simulasi taktis perpaduan kekuatan udara dan darat.
“Digambarkan ada penggunaan drone fiber optik untuk mencegah adanya jammer dari pihak musuh, kemudian ada juga teknologi drone kamikaze, ada juga drone untuk breaching atau membuka pintu pada saat penyerbuan pasukan darat, ada drone pengintaian, dan juga yang untuk menjatuhkan baik bahan peledak maupun dari komponen cadangan,” ungkap Letkol Petrus.
Dalam latihan gabungan itu, 50 personel dikerahkan, yakni 38 prajurit TNI lintas matra termasuk komponen cadangan, dan 12 prajurit dari Yordania. Persiapan kegiatan ini juga dilakukan matang, termasuk pengiriman prajurit TNI ke Yordania untuk mempelajari teknologi drone secara intensif.
Dihadiri langsung oleh dua kepala negara, latihan tersebut bukan hanya menampilkan kesiapan teknis, tetapi juga memperkokoh hubungan bilateral Indonesia dan Yordania.
Letkol Petrus berharap kerja sama ini terus berkembang ke arah yang semakin strategis.
“Harapan kami terjalin hubungan yang strategis yaitu mulai dari geopolitik, geokonomi dan geostrategis antara dua negara dan antar benua,” ucapnya.
