Dua Minggu Ledeng Macet, Dirut PDAM Pijay: Perusahaan Sedang Sakit

Pidie Jaya, Gpriority – Masyarakat di beberapa Kecamatan di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh keluhkan pendistribusian air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Krueng Meureudu selama dua minggu macet dan tidak masuk ke beberapa desa di Kabupaten tersebut.

Akibatnya, warga merasa kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan sebagian warga terpaksa mengandalkan air hujan, hingga membeli air dari penjual air galon keliling untuk kebutuhan rumah tangga mereka.

Hal itu terpaksa dilakukan warga karena ketersediaan air sumur yang sudah mulai mengering dan bau.

Menurut sebagian warga, suplai air bersih yang buruk dari PDAM Tirta Krueng Meureudu tersebut merupakan masalah klasik yang tidak kunjung terselesaikan, kendati telah beberapa kali pergantian Direktur perusahaan daerah tersebut.

“Beberapa kali warga telah menyampaikan komplain kepada PDAM Tirta Krueng Meureudu, namun tetap saja tidak ada perbaikan pelayanannya,” ungkap Iskandar (50), warga Kecamatan Meureudu kepada wartawan, balum lama ini.

Menanggapi hal itu, Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Krueng Meureudu, Pidie Jaya, Cut Faisal Syahputra mengatakan, pihaknya saat ini terus berupaya melakukan perbaikan jaringan di beberapa kecamatan yang mengalami masalah.

Menurutnya, hampir semua jaringan pipa Polivinil klorida (PVC) milik PDAM Tirta Krueng Meureudu kondisinya sudah tua dan lapuk. Sehingga wajar jika sering terjadi kebocoran pada jaringan yang membuat pendistribusian air bersih ke rumah masyarakat tersumbat.

“Jadi penyebab air macet tersebut karena beberapa jaringan pipa pvc bocor. Tapi, dipastikan dalam beberapa hari ke depan sudah kembali lancar,” kata Direktur PDAM Tirta Krueng Meureudu, Cut Faisal Syahputra kepada Gpriority melalui sambungan telepon, Senin, (19/4/2021).

Di akui, paskah gempa yang melanda Kabupaten Pidie Jaya beberapa waktu lalu, belum pernah dilakukan pergantian pipa jaringan, sedangkan, menurut Faisal, pipa jaringan PDAM Tirta Krueng Meureudu sudah layak untuk dilakukan rehab rekonstruksi paskah bencana tersebut meskipun tidak maksimal, hanya parsial.

Disinggung apa upaya yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, Faisal mengaku belum bisa berbuat apa-apa untuk melakukan pergantian jaringan itu.

Sebab, Faisal mengaku jika saat ini pendapatan PDAM sendiri hanya bersumber dan mengandalkan dari rekening pelanggan. Dan kondisinya itu juga hanya cukup untuk menutupi biaya operasional dan gaji pegawai.

“Kalau hanya untuk perawatan yang kecil masih dapat kami talangi, tapi kalau untuk yang besar-besar, belum lah,” katanya.

Faisal menuturkan, sejak dirinya dilantik sebagai Direktur PDAM Tirta Krueng Meureudu pada 28 Januari 2021 lalu, sudah dihadapkan dengan kondisi perusahaan yang sedang dalam keadaan sakit.

Dengan kondisi sakit seperti ini, selama masa 100 hari kerja ini dirinya belum bisa mengerjakan apa-apa , dikarenakan kondisi keuangan yang tidak ada. Hanya dapat melakukan perbaikan kebocoran sementara dan mengatur jadwal pendistribusian.

“Berbeda halnya dengan 100 hari kerja pemerintah daerah, mereka dapat melakukan dan mengambil kebijakan-kebijakan selama masa itu,” ujarnya.

Kendati demikian, Faisal mengaku, saat ini dirinya sedang melakukan persiapan pengajuan anggaran ke pihak pemerintah daerah, meskipun ia tidak menyebutkan berapa jumlah angka yang akan diajukan tersebut.

“Jadi apa yang harus dibenahi, sedang kami lakukan identifikasi secara menyeluruh, berapa angka yang dibutuhkan. Karena untuk menyehatkan PDAM sendiri perlu dilakukan revitalisasi,” katanya.(Zul)

Related posts