Sampai saat ini pemerintah masih terus berupaya menemukan metode yang efektif untuk mendeteksi virus Covid-19 yang sedang melanda Indonesia. Bahkan ada wacana untuk mengganti metode tes Covid-19 berbasis Swab ke Saliva.
Tessaliva adalah metode pendeteksi virus Corona dengan menggunakan sampel air liur. Dikutip dari WebMd, tes saliva mendeteksi materi genetik virus dalam sampel air liur dengan kecepatan yang sama seperti metode swab yang mengumpulkan materi melalui mulut atau hidung. Pengetesan spesimen dengan metode saliva akan memakan durasi yang lebih cepat, sebab tak memerlukan ekstraksi atau pemurnian RNA virus, seperti yang selama ini dilakukan dengan metode swab.
Sampel air liur stabil hingga 24 jam bila disimpan dengan kantong es atau pada suhu ruang. Peneliti mendeteksi tidak ada perbedaan konsentrasi pada saat pengumpulan, delapan jam kemudian atau 24 jam kemudian.
Sampel air liur yang dikumpulkan sendiri sama baiknya dalam mendeteksi COVID-19 seperti swab hidung yang diberikan oleh petugas kesehatan. Metode ini dinilai lebih aman karena bisa meminimalisir terjadi penyebaran virus pada staf medis saat mengumpulkan sampel.
Pemeriksaan menggunakan spesimen saliva mulai dipertimbangkan untuk menegakkan Covid-19 sebagai alternatif dari spesimen swab nasofaring. Swab nasofaring memiliki keterbatasan, yaitu rasa tidak nyaman bagi pasien, merangsang batuk dan bersin, dan berpotensi memproduksi aerosol. Hal ini menyebabkan tes saliva semakin banyak dipelajari sebagai pilihan pengambilan sampel yang lebih disukai oleh pasien dan tenaga kesehatan.
Tes saliva untuk mendeteksi Covid-19 memiliki potensi yang besar untuk diterapkan di Indonesia. Jika dibandingkan dengan swab nasofaring, tes saliva memiliki keuntungan, yaitu metode yang sederhana sehingga dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien, berpotensi untuk dilakukan tanpa harus datang ke RS atau laboratorium, serta penghematan biaya kesehatan.
Namun, penerapan tes saliva untuk menegakkan diagnosis Covid-19 perlu didukung dengan data yang lebih lengkap tentang efektivitas dan keterbatasan prosedur ini pada berbagai kondisi pelayanan dan dinamika viral load antarspesimen. (VIA)
